MUI Purwakarta Sebut Aksi 2 Desember Tidak Murni Perjuangkan Umat Islam

SuaraNetizen.com - MAJELIS Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat melarang seluruh umat Islam di wilayah Purwakarta untuk berangkat ke Jakarta mengikuti Aksi 2 Desember yang diselenggarakan kelompok yang menamakan diri sebagai Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) karena lebih banyak mudharatnya.

MUI Purwakarta tidak akan memberikan fasilitas apapun bagi umat Islam yang ingin berangkat ke Jakarta untuk bergabung dengan aksi 2 Desember.

Menurut Ketua MUI Kabupaten Purwakarta yang juga Sesepuh Pondok Pesantren Al Muhajirin KH Abun Bunyamin, berdoa di masjid itu tidak ada mudharat sama sekali, dibandingkan dengan berangkat ikut aksi 2 Desember.

"Kami di MUI Purwakarta tidak akan memberikan fasilitas apapun bagi umat Islam yang ingin berangkat ke sana,” tegas Kiai Abun Bunyamin.

Hal senada juga diungkapkan sesepuh Pondok Pesantren Al Hikamus Salafiyah Cipulus Wanayasa Purwakarta Abah Adang..

Ia berujar, aksi 2 Desember sudah tidak lagi murni memperjuangkan kepentingan umat Islam karena sudah tercampur oleh anasir-anasir politik sehingga lebih banyak mendatangkan mudharat dibandingkan manfaat.

Abah Adang menegaskan kepentingan umat Islam di seluruh dunia itu mengejar surga, bukan mengejar jabatan politik seperti memperebutkan jabatan Gubernur Jakarta.

Ia pun mengimbau umat Islam agar tidak mengikuti ajakan untuk melaksanakan salat di jalan umum atau di lapangan selagi ada masjid.

“Kepentingan umat Islam itu mengejar surga, bukan jabatan politik. Saya dalam kesempatan ini juga menyampaikan, makmurkan masjid, jangan salat di jalan umum atau lapangan selagi ada masjid,” tegas Abah Adang.

Lebih jauh Abah Adang mengingatkan seluruh umat Islam Purwakarta agar memilah dan memilih ulama untuk dijadikan panutan.

Menurut dia semboyan ‘Umat Islam harus tunduk pada Ulama’ haruslah diverifikasi secara mendalam. Karena salafush shalih (ulama terdahulu yang saleh) sudah memberikan tuntunan etika dalam mengartikulasikan kepentingan politik umat.

“Etikanya itu, saat kita mendapatkan pemimpin yang adil, maka wajib bersyukur. Saat kita mendapatkan pemimpin yang dzalim maka berdoa dan bersabar adalah jalan terbaik sehingga pemimpin kita mendapatkan hidayah dari Allah SWT,” tandasnya. (MediaIndonesia)

loading...