Mbah Maimoen: Negara Islam Itu Sudah Tak Ada, Kita Harus Tetap Menjaga Bhinneka Tunggal Ika

REMBANG - Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Maimoen Zubair menuturkan tentang pentingnya persatuan dan kesatuan.

Kiai berusia 91 tahun itu mengatakan bahwa Indonesia walaupun di dalamnya ada perbedaan agama, prinsip Bhinneka Tunggal Ika harus tetap dijaga.

"Mari kita jaga bersama keadaan dan keutuhan Indonesia. Mari kita buat Indonesia ini menjadi lebih baik. Mari kita minta kepada Allah agar Indonesia dikuatkan," ajaknya di hadapan puluhan kader Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor dan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, saat sowan di kediamannya, Ahad (27/11) sore.

Ia mengatakan bahwa keberislaman di Indonesia sekarang sudah cukup ramai.

Dulu, ketika ia masih kecil, orang sembahyang hanya sepuluh persen. Baca syahadat hanya ketika akan kawin. Tapi sekarang anak kecil sudah bisa baca syahadat.

"Ini suatu hal yang harus disyukuri Indonesia," tutur Pengasuh Pondok Pesantren Al-Anwar Desa Karangmangu Kecamatan Sarang, Kabupaten Rembang, tersebut.

Mbah Moen, sapaan akrabnya, menambahkan, Nabi diutus untuk mengurusi keseluruhan, bukan hanya terfokus pada suatu perkara saja.

"Indonesia ini di dalam perbedaan agama itu harus tetap Bhinneka Tunggal Ika. Tidak hanya negara Islam karena negara Islam sekarang sudah tidak ada. Khalifah itu sudah habis, yakni khalifah yang pertama Khulafaur Rasyidin, kedua Muawwiyah, Abbasiyah dan terakhir Khulafa' Usmaniyyah," tutur kiai kharismatik tersebut.

Ia berpesan kepada rakyat Indonesia agar tetap menjaga kondisi bangsa, menjaga dari kesemrawutan bangsa.

"Islam itu rahmatan lil 'alamin. Islam itu harus ada ulama, apalagi bangsa. NU juga harus bisa mengaji kitab, baca Qur’an, tahu artinya," tutupnya. (NU.or.id/Aan Ainun Najib/Mahbib)

loading...