Soal Saksi Ahli Dari Mesir, Begini Isi Surat Penolakan MUI Yang Dikirimkan Ke Grand Syaikh Al Azhar

SuaraNetizen.com - Penyidik Bareskrim Polri akan mendatangkan saksi ahli langsung dari Mesir untuk memberikan keterangan terkait kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama.

Saksi ahli tersebut yakni ulama Al-Azhar, Syekh Musthofa Amr Wardani, yang akan didatangkan ke Jakarta.

Dilansir dari Republika, Kapolri Jenderal Tito Karnavian membenarkan kabar tersebut, “Oh iya itu dari pihak terlapor ya (Ahok), pihak terlapor kan boleh mendatangkan saksi ahli, seperti Jessica mau ngambil dari Australia, kan silakan, jadi yang dari terlapor ngambil dari Mesir ya silakan, enggak ada masalah,” ujar Tito di Mako Brimob Mangga Dua, Depok, Selasa (14/11).

Menanggapi hal itu, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan keberatan terhadap keikutsertaan Syeikh Mustafa Al-Wardhani untuk menjadi saksi ahli bagi Ahok. MUI mengirimkan Surat Keberatan kepada Grand Syaikh Al-Azhar.

Berikut Surat Keberatan MUI Terhadap Syaikh Mesir Mustafa Al-Wardhani untuk Menjadi Saksi Ahli Ahok :

Kepada Yth. Fadhilathus Syaikh
Prof. Dr. Ahmad Thayyib,
Grand Mufti Al-Azhar, Kairo Mesir

Assalaamu’alaikum Warahmatulloohi Wabarakaatuh…

Bersamaan dengan datangnya surat ini, kami berharap tuanku sekalian dalam keadaan sehat wal afiat dan negara mesir bertambah maju dan sejahtera…
Sehubungan dengan kabar yang telah banyak beredar tentang ziyaroh/kunjungan Syaikh Mushtofa Amr Wirdani dari kantor pusat Darul ifta Negara Mesir ke Indonesia sebagai saksi ahli agama untuk perkara penodaan dan penistaan ayat Al-Quran Surat Al Maidah Ayat 51, yang dilakukan oleh gubernur Jakarta Seorang Nashrani/Kristen pada pidatonya yang ia sampaikan di tengah-tangah kerumunan masyarakat, maka Kami menyatakan kepada tuanku sekalian beberapa hal/point sebagai berikut :

1). Bahwa kunjungan tersebut menimbulkan polemik yang luar biasa pada bangsa dan masyarakat muslim Indonesia yang bisa mengantarkan pada pergolakan sosial, perpecahan, dan menyalakan api fitnah yang luar biasa, serta keresahan yang dialami oleh para ulama, cendekiawan, serta tokoh-tokoh agama dan politik dari berbagai ormas, yayasan dan elemen-elemen bangsa yang dikenal mempunyai sikap yang adil, obyektif dan toleran.

2). Bahwa kunjungan tersebut dianggap sebagai bentuk bagian mencampuri urusan dalam negeri negara lain yang mempunyai kendali pemerintahan/konstitusi dan agama yang sah.

3). Bahwa kunjungan tersebut mencerminkan sikap tidak mengakui peran dan eksistensi Majelis Ulama Indonesia sebagai pemegang kendali agama untuk menerbitkan Fatwa dan bimbingan/sikap keagamaan bagi Umat Islam Indonesia, dan MUI yang tuanku telah berkunjung ke dalamnya pada bulan Februari 2016 itu adalah representasi dari umat islam Indonesia yang tergabung di dalamnya lebih dari 70 ormas Islam.

4.) Bahwa kunjungan tersebut bisa di eksploitasi atau dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu baik dari dalam maupun luar negeri untuk memperkeruh dan merusak hubungan yang baik dan harmonis yang telah terjalin selama ini antara ke dua negara (Indonesia dan Mesir) baik secara kehidupan sosial maupun bernegara.

Oleh sebab itu, kami meminta kepada tuanku seklian agar memandang perkara ini dengan pandangan yang cermat, arif, dan bijaksana serta agar berkenan meluangkan segenap daya kemampuan untuk segera memgambil langkah-langkah yang cepat guna menjaga Islam dan kaum muslimin di kedua negara serta kami meminta kepada tuanku sekalian adanya bentuk pengingkaran yang sangat terhadap segala jenis upaya dan niat jahat dalam rangka mencabik dan merusak ukhuwwah/persaudaraan Islam serta mnebarkan segala bentuk fitnah.

Kantor Pusat MUI

Ttd
Dr.Ma’ruf Amin
(KETUA UMUM)

Dan
Dr.Anwar Abbas
(SEKRETARIS UMUM)

loading...