MUI Gagas Rujuk Nasional, Jokowi: Rujuk Apa? Yang Berantem Siapa?

Jakarta - Presiden Joko Widodo menegaskan kondisi bangsa saat ini sangat baik. Karena itu, Jokowi menilai gagasan rujuk nasional bukan istilah tepat jika dimaksudkan sebagai silaturahmi nasional. 

"Rujuk apa? Yang berantem siapa? Saya kira rujuk-rujuk itu, la wong kita enggak berantem, kok," kata Jokowi saat menjamu Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar minum teh bersama di beranda belakang Istana Merdeka, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (29/11/2016).

Jokowi mengatakan pihaknya justru ingin mengingatkan kembali keberadaan Indonesia yang dianugerahi dengan perbedaan dan keberagaman.

"Kita ingin mengingatkan kembali betapa kita ini beragam, betapa kita ini majemuk. Enggaklah, saya kira rujuk, rekonsiliasi, kalau kita berada pada posisi apa? Posisi apa?" tanya Jokowi ke Muhaimin.

"Berantem," jawab Muhaimin.

"Nah, itu. Kita ini baik-baik saja. Kita bertemu MUI juga sudah, bertemu NU juga sudah, bertemu Muhammadiyah juga sudah. Saya kira kita ini baik-baik saja," kata Jokowi.

"Hanya, perlu sekali lagi kita mengingatkan kepada kita semuanya tentang keberagaman itu, tentang pentingnya Pancasila, tentang pentingnya NKRI, tentang pentingnya Bhinneka Tunggal Ika. Mengingatkan itu saja," tambah Jokowi.

Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin sebelumnya menggagas pertemuan dengan tema rujuk nasional. Konsolidasi nasional penting untuk bertukar pikiran, juga mencari solusi bersama guna mempererat solidaritas nasional.

Saat ini, dalam pandangan Ma'ruf, beredar banyak prasangka buruk. Terjadi jurang perbedaan kesepahaman yang berpotensi memecah persatuan nasional. 

"Kita perlu melakukan pertemuan, dialog nasional untuk bisa mencapai rujuk nasional. Jadi rujuk nasional akan menyatukan seluruh potensi bangsa ini, jangan sampai ada kecurigaan, ada prasangka, ada praduga yang tidak tepat dan membuat kesalahpahaman," ujar Ma'ruf Amin saat dihubungi, Selasa (29/11). (detikcom)

loading...