Jangan Ikuti Aqidah Baru Yang Melarang Yasinan, Tahlilan Tapi Malah Bolehkan Ngebom


Penceramah kondang dan kocak asal Bojonegoro KH Anwar Zahid mengatakan, di zaman serba cepat ini, rumah boleh baru, mobil juga boleh baru, namun aqidah biarlah yang lama, Ahlussunnah wal Jamaah.

Ia menyampaikan hal itu saat berceramah di lapangan Kampung Serdang Kuring Kecamatan Bahuga Kabupaten Waykanan Provinsi Lampung, Selasa (7/4).

Pengasuh pondok pesantren Attarbiyah Islamiyah Assyafi'iyah itu menegaskan, modernitas tidak harus diimbangi dengan memperbarui aqidah.

"Aqidah jangan ikut yang baru, apa-apa nggak boleh, Yasin nggak boleh, Tahlil nggak boleh, tapi ngebom, apa-apa dibom! 'Aja angger bathuke ireng dipeloni, ditutuki watu kuwi ya cepet lhe ireng' (jangan asal jidatnya hitam diikuti, dipukuli dengan batu jidat juga cepat jadi hitam)," paparnya di hadapan jamaah yang memenuhi sekitar 150 tenda.

Pada pengajian diselenggarakan Lembaga Persatuan Tokoh Islam (LPTI) Walisongo Waykanan itu, alumni Ponpes "APTQ" Sampurnan Bungah, Gresik, Jatim tersebut menegaskan, bacaan Tahlil yang dikirim pasti sampai.

"Buktine ra ana sing mbaleke (buktinya bacaan Tahlil tidak ada yang memulangkan). Nak ra tekan kan dibaleke (kalau tidak sampai kan dikembalikan)," tuturnya.

ISIS, demikian Kiai Anwar melanjutkan, ialah kelompok ekstrim yang membuat 'sumuk' (gerah). "Mereka bukan jihad, tapi jian.... Mereka bukan mujahidin, tapi mujahilin. Aliran sesat dan aliran sesaat yang muncul saat ada pencalonan harus diwaspadai," ujar dia mengingatkan.

Senada Kiai Anwar, Ketua Lembaga Persatuan Tokoh Islam (LPTI) Walisongo KH Rofiul Bashori mengajak umat Islam setempat istiqomah pada Aswaja.

"NKRI Harga Mati! Kita bela Aswaja. Islam kita bukan bid'ah. Masyarakat harus mewaspadai aliran-aliran baru yang radikal, tidak sejalan dengan Indonesia," ujar pengasuh Pengasuh Ponpes Roudhotul Mutaqin di Kampung dan Kecamatan Bumiagung Waykanan itu menegaskan. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi/NU.or.id)
loading...