Itu yang Ngebom Gereja Di Samarinda Pasti Ngajinya Sama Setan

SuaraNetizen.com - Hari ini ada berita duka. Terjadi pengeboman di depan gereja Oikumene, Samarinda. Pengeboman dilakukan saat jemaat baru selesai melaksanakan ibadah. Dari 5 orang korban luka-luka, 4 orangnya adalah anak-anak.

Setelah diidentifikasi, pelaku ternyata merupakan kelompok JAD Kaltim dan mempunyai link dengan kelompok Anshori di Jatim yang sekarang ini masih supervisi karena indikasi akan membeli senjata api dari Filipina.

Bagi saya ini tindakan yang sangat keji, mempermalukan ajaran Islam itu sendiri. Sebab sekarang, minimal ummat kristen di sekitar gereja Oikumene akan mengalami trauma terhadap ummat Islam. Saya berani menyatakan seperti itu karena pernah bertemu dengan salah satu saksi mata dan korban bom saat malam natal.

Tahun 2013 saya sempat bekerja di Bank Mandiri Remittance Kuala Lumpur. Atasan yang juga merupakan teman saya adalah Mbak Micella. Dia ke Malaysia memang ditempatkan, sementara saya hanya mengisi kekosongan karena kegiatan rutin sudah mulai berkurang.

Suatu kesempatan, setelah beberapa kami bertemu dan saling bercanda, Mbak Micella sempat bercerita tentang kesannya mengenal saya. Satu hal yang paling membuat saya tergelitik adalah cerita traumanya berhadapan dengan pria berjenggot.

“itu jenggot ga bisa dicukur apa mas?”

Awalnya saya tertawa, apa urusaanya takut dengan jenggot? Namun perlahan saya berhenti tertawa setelah mendengar cerita lanjutannya. Mbak Micella adalah salah satu saksi dari terjadinya di salah satu gereja di Indonesia pada malam natal. Saya mendadak salah tingkah.

Setiap malam natal, setiap bertemu pria berjenggot, secara otomatis Micella teringat dengan kejadian beberapa tahun yang lalu. Saya lupa tahunnya, tapi dia waktu itu jelas menyebut tahun sekian.

Mendengar ceritanya, saya pun coba menjelaskan dan cerita. Bahwa memelihara jenggot itu sunnah dalam Islam. Tapi sebaiknya dalam batas wajar, kalau makan tidak terganggu dan sebagainya. Saat bertemu dengan Micella, jenggot saya mungkin kurang dari satu senti. Tak terlalu ketara. Saya kemudian mencontohkannya seperti itu arti dalam batas wajar menurut pemahaman saya.

Setelah menceritakan tentang jenggot yang tidak harus (wajib), Micella kemudian menanyakan apakah bom atau membunuh orang non muslim itu juga ada aturannya dalam Islam? Sebab dia juga sering mendengar seruan-seruan memerangi kaum non muslim.

Saat itu saya sempat terdiam. Berat sekali ternyata kalau harus menghadapi korban bom dan kemudian trauma selama bertahun-tahun. Namun akhirnya saya menjelaskan, bahwa dalam Islam tidak ada seruan untuk membunuh kaum non muslim. Jangankan membunuh sesama manusia, membunuh tumbuhan tanpa alasan yang jelas atau hanya karena alasan tidak suka saja itu sudah dilarang dalam agama Islam. Menyembelih hewan pun ada aturannya, ada doanya. Kalau hewan mati ditembak, darahnya haram dimakan. Semua hewan harus disebelih dan membaca doa sebelumnya.

Jadi, misal di rumah kita ada ayam banyak, beranak pinak. Sementara kita pemiliknya tidak doyan, malas menjual, jadi dibom sajalah semua ayam tersebut, agar mati semua dan tidak berisik. Contoh seperti itu saja dilarang oleh agama Islam. Apalagi membunuh manusia. Hewan dan tumbuhan dilindungi dalam kitab suci Alquran. Tidak boleh sembarang membunuh atau membabat, harus ada alasan dan kebermanfaatannya.

“tapi ada ga sih aturan atau ajakan membunuh dan memerangi kaum non muslim? Katanya itu jihad.”

Ini untuk kedua kalinya dia bertanya hal yang sama. Kembali saya jelaskan bahwa memang ada seruan jihad. Tapi bukan membunuh yang non muslim. Jihad itu bisa beragam aktifitas. Suami mencari nafkah, itu jihad. Belajar menuntut ilmu, juga jihad. Tapi berperang di jalan Allah juga jihad.

“yang menjadi masalah memang mereka yang baru tau mengaji, lalu berkumpul dengan kaum radikal. Mereka mudah dicekoki macam-macam seruan. Salah satunya jihad berperang di jalan Allah dengan jaminan surga. Lewat jalur bom bunuh diri. Hal itu bisa saya pastikan salah, tidak ada ajaran Islam yang mengajak ummatnya untuk membunuh manusia lain hanya karena alasan beda agama. Tidak ada ayatnya!”

Untuk itu, satu-satunya hal yang bisa saya lakukan saat ini adalah meminta maaf kepada saudara-saudara ummat kristen yang pasti ada tersinggung dan marah atas kejadian ini. Buat orang-orang tua anak yang menjadi korban, semoga diberikan kekuatan dan tabah menghadapi segala pertanyaan anak-anak tersebut nantinya terkait Islam dan orang-orangnya. Semoga ke depan anak-anak tersebut tidak mengalami trauma dan tidak memusuhi sesama rakyat Indonesia, sekalipun agamanya Islam.

Bom terus berulang

Saya meminta maaf atas nama ummat Islam di seluruh Indonesia. Mungkin maaf ini tak akan ada artinya, sebab siapalah saya, bukan ulama dan tokoh penting di negeri ini. Tapi setidaknya sebagai orang Islam saya ingin mengatakan sesuatu, saat orang lain tak mau atau tak mampu mengatakannya.

Saya tau ini sudah kesekian kalinya gereja dibom. Sudah terlalu sering. Bom malam natal tahun 2000 terjadi di beberapa kota. Bom gereja Santa Anna, September 2001. Bom gereja Imanuael, Desember 2004. Dan entah mungkin ada beberapa lagi daftar gereja terkena bom yang mungkin saya kurang tau. Tapi saya tetap berharap saudara-saudara kita ummat kristen mau bersabar lagi. Saya akan maklum kalau nantinya kalian trauma dengan orang-orang Islam, tapi semoga tak perlu ada dendam atau prasangka berlebih kepada saya dan orang-orang Islam lainnya.

Sebab jangankan kalian, saya saja yang sesama orang Islam juga kesal dengan tingkah laku mereka. Mereka yang sering saya sebut sapi-sapian, mereka yang sering mengatakan “Allahuakbar” hanya untuk membenarkan opini dan orasi-orasinya. Entah apa isi otaknya. Mau masuk surga karena tergiur bidadarinya. Motivasi nikah karena alasan selangkangan. Ujung-ujungnya, bom bunuh diri supaya cepat ketemu bidadari yang semlohai dengan selangkangan sempurna. Fiuuuh…

Saya tak berani menyimpulkan bahwa mereka sapi-sapian ini semuanya teroris dan bisa ngebom kapan saja, tapi saya dapat memastikan bahwa mereka adalah tipe-tipe orang Islam garis keras dan sangat benci dengan orang nonmuslim. Jangankan kalian yang jelas-jelas nonmuslim, saya saja yang muslim sejak lahir, belajar ngaji di pesantren 12 tahun, kalau beda pandangan dengan mereka langsung disebut kafir, liberal, bidah dan seterusnya. Dan dari kalangan merekalah para teroris-teroris itu berada.

Terakhir, saya menulis ini sebagai orang Islam dan sebagai orang Indonesia. Penting untuk saya sampaikan bahwa kalau kalian marah, saya juga marah dengan mereka. Kita sedang memerangi orang dan kelompok yang sama. Selanjutnya kita serahkan pada Polisi, semoga segera membasmi semua jaringannya.

Jika ada orang Islam yang tidak setuju dengan tulisan saya ini, mungkin mereka adalah bagian dari kaum radikal yang 4 November lalu berdemo membawa bambu runcing dan menusuk polisi hingga luka-luka.

Begitulah kura-kura.

(Seword.com)

loading...