Ilmuwan Dari Indonesia Ini Kembangkan Teknologi Kemiliteran yang Keren Banget

SuaraNetizen.com - Teknologi kemiliteran berkembang dari zaman peradapan revolusi industri, dimulai dari teknologi penempaan yang dikembangkan oleh ilmuwan Russia Nikolav Lomonosov. Penyempurnaan teknologi tersebut terus dilakukan oleh beberapa ilmuwan Russia. Vladimir Segal yang telah menggabungkan dua gaya pada mesin hidrolik sekitar tahun 1980-an, eksperimen tersebut secara lanjut dikembangkan di Institute Minsk-Belarus, metode ini bernama Equal Channel Angular Extrusion(ECAE). 

Satu dekade berikutnya Ilmuwan Russia lain berhasil menyempurnakan eksperimen tersebut menjadi lebih aplikatif, yaitu Ruslan Valiev dengan mengembangkan Equal Channel Angular Pressing (ECAP), secara proses teknologi ini merupakan revolusi teknologi yang telah menyempurnakan teknologi konvensional seperti proses tempa, rolling, ekstrusi maupun drawing

Selang beberapa tahun pengembangan teknologi untuk aplikasi perangkat kemiliteran mengalami peningkatan yang cukup signifikan, beragam jenis metode baru telah dikembangkan, seperti Accumulative Roll Bonding (ARB) oleh ilmuwan Jepang Nobuhiro Tsuji, Equal Channel Angular Torsion (ECAR) oleh ilmuwan China Xia Wang. Pada tahun 2012 Simple Shear Extrusion (SSE) juga telah ditemukan oleh Niema Pardis, dilanjutkan eksperimen yang dilakukan Amirkhanlouf, mahasiswa doktoral dari Institute of Materials and Manufacturing Brunel University London yaitu Accumulative Press Bonding (APB). Teknologi ini mampu menghasilkan material dengan kekuatan tinggi.

  
Kemutakhiran perangkat kemiliteran yang dikembangkan Rusia dan NATO

Di Eropa perusahaan seperti Metallicum telah mengkhususkan diri dalam logam berstruktur nano, teridentifikasi lebih dari 100 pasar khusus untuk nano metals dalam bidang aerospace, transportasi, peralatan medis, pengolahan produk olahraga, makanan dan bahan kimia serta bahan bahan piranti elektronik.

Namun untuk aplikasi perangkat kemiliteran teknologi tersebut belum mampu menghasilkan bahan yang ringan sesuai dengan standarisasi MIL-HDBK 13C5G/217-F. Aplikasi produk militer membutuhkan produk yang ringan untuk efisiensi proses serta machinery lifetime system.

  
RPRF untuk menghasilkan material komposit kekuatan tinggi

Pada tahun 2015 teknologi ini telah dikembangkan menggunakan multi-aksial pressing, yaitu Repetitive Press Roll Forming (RPRF). teknologi ini dikembangkan oleh Agus Pramono Dosen Untirta Banten kandidat Ph.D dari Institute Mechanical Engineering Tallinn University of Technology. Eksperimen ini dilakukan dalam kurun waktu tiga setengah tahun, semua eksperimen telah dilakukannya di laboratorium tempat dia menuntut ilmu.

Beberapa uji coba telah dilakukan mulai dari uji coba menggunakan beberapa jenis material yang berbeda. Pada percobaan terakhir eksperimen RPRF mampu menghasilkan produk logam dan komposit yang memiliki kekuatan tinggi dengan bahan yang ringan. Sifat ringan dan kekuatan tinggi tersebut memenuhi kriteria dari pengembangan teknologi produk komposit untuk aplikasi perangkat kemiliteran yang saat ini sedang dikembangkan oleh Rusia dan NATO.

  
Penyampaian materi di beberapa negara Eropa dan Rusia

Pada pertemuan dengan menteri riset dan pendidikan tinggi Prof. Muh Nasir di KBRI Finlandia, dosen yang hobi main musik ini sempat menyampaikan hasil risetnya untuk aplikasi alutsista, dia berharap agar Indonesia juga menerapkan metode RPRF untuk perangkat kemiliteran pada proses fabrikasi dan manufaktur, menurutnya saat ini Indonesia perlu menetapkan standarisasi, spesifikasi perangkat kemiliteran yang sesuai dengan sektor pertahanan (darat, laut dan udara).

  
Suasana diskusi dengan Menristekdikti Prof. Muh Nasir dalam suasana ramah tamah di KBRI Finlandia

(Agus Pramono)

Sumber :  Perhimpunan Pelajar Indonesia - Rusia (PERMIRA)

Source: https://www.goodnewsfromindonesia.id/2016/06/19/dosen-untirta-kembangkan-metode-baru-perangkat-kemiliteran

loading...