Ilmuwan AS: Trump akan menjadi presiden anti sains pertama yang pernah ada, ini parah

Reaksi muncul menyambut hasil pemilihan presiden Amerika Serikat hari ini. Kandidat Presiden AS dari Partai Republik, Donald Trump meraih kemenangan setelah melampaui lebih dari 270 electoral college.

Kemenangan taipan AS itu disambut kecut oleh para ilmuwan. Sebab selama ini Trump dikenal sebagai kandidat yang bertolak belakang dengan ilmuwan. 

Dikutip dari Nature, Rabu 9 November 2016, ilmuwan mengaku was-was dengan hasil pemilihan Presiden AS tersebut. 

"Trump akan menjadi presiden anti sains pertama yang pernah ada. Konsekuensinya ini akan makin parah," ujar Direktur Urusan Publik American Physical Society di Washington DC, Michael Lubell. 

Respons kekhawatiran juga terlontar dari mulut Direktur Kebijakan Publik dan Hubungan Media American for Cell Society, Kevin Wilson. 

"Saya pikir setidaknya ini (kemenangan Trump) akan menempatkan efek mengerikan pada kepentingan ilmuwan dari negara lain yang datang ke sini (AS)," ujar Wilson.  

Salah satu sikap kontroversial dari Trump dalam konteks ilmu pengetahuan adalah soal perubahan iklim. Dalam sebuah kesempatan Trump mempertanyakan ilmu pengetahuan yang mendasari konsep perubahan iklim. Malah dia menuding gagasan perubahan iklim hanyalah akal-akalan China saja. 

Sikap kontroversial lain juga ditunjukkan Trump. Dia mengatakan akan membawa AS mencabut dukungan dari kesepakatan perubahan iklim dalam Konferensi Paris. 

Pernyataan Trump lainnya dalam dunia ilmu pengetahuan yaitu mengejek Badan Antariksa AS (NASA) sebagai 'agen logistik' untuk aktivitas di orbit rendah Bumi. Trump pernah mengatakan sesumbar dia akan memperluas peran industri swasta dalam program ruang angkasa AS. 

Atas sikap Trump yang dianggap anti ilmu pengetahuan, beberapa ilmuwan mengaku sudah berpikir untuk meninggalkan AS. 

Hal itu disampaikan oleh Murray Rudd, yang merupakan akademisi ekonomi dan kebijakan lingkungan di Emory University, Atlanta, Georgia. 

"Sebagai orang Kanada yang bekerja di universitas AS, kembali pulang ke Kanada akan menjadi sesuatu yang akan dipertimbangkan," kata Rudd. (Viva.co.id)

loading...