Buni Yani Jadi Tersangka, Ini 3 Kejanggalan Menurut Habiburokhman

Buni Yani Tersangka - Polda Metro Jayamenetapkan Buni Yani, pengunggah ulang video pidato Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu, sebagai tersangka, Rabu (23/11/2016) malam.

Buni Yani ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pencemaran nama baik dan penghasutan yang berbau suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA).

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Awi Setiyono menyampaikan, penetapan tersangka ini dilakukan setelah Buni Yani diperiksa sebagai terlapor selama lebih kurang sembilan jam.

Buni Yani mulai diperiksa sejak pukul 11.00 WIB sampai dengan pukul 20.00 WIB.

Selengkapnya pernyataan Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Awi Setiyono, simak tayangan video di atas. (*)

Merespons hal ini, Ketua Dewan Pembina Advokat Cinta Tanah Air (ACTA), Habiburokhman mengatakan, ada tiga keanehan terkait penetapan Buni Yani sebagai tersangka.

Menurut Habiburokhman, pertama berbeda dengan Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuk T Purnama (Ahok) yang dipanggil sebagai saksi, ditetapkan sebagai tersangka lalu pada kesempatan berbeda kembali dipanggil sebagai tersangka.

"Dalam kasus Buni Yani beliau langsung ditetapkan sebagai tersangka padahal semula dipanggil sebagai saksi," kata pria yang biasa disapa Habib ini, dalam siaran pers, Kamis (24/11/2016).

Kedua, diakui Habib, yang membuat orang marah adalah redaksi yang diucapkan Ahok. Para pelapor kasus Ahok sudah menegaskan bahwa mereka melapor setelah melihat video pidato Ahok versi utuh.

"Saksi yang hadir di Kepulauan Seribu pun mengatakan bahwa dia tersinggung dan sakit hati setelah mendengar pidato Ahok secara langsung," ungkapnya.

Ketiga sambung Habib, ahli forensik sudah menegaskan bahwa dari berbagai macam versi rekaman video yang menjadi bukti, baik versi pendek, versi panjang maupun versi pixel rendah secara garis besar tidak ditemui penyisipan maupun pemotongan.

"Sehingga tidak terbukti ada yang merekayasa rekaman video Ahok," tegas Habib. (SN)

loading...