Pikiran Wahabi soal Bidah gak Konsisten, Serampangan memvonis bidah tapi diri mereka juga melakukan bidah


Pikiran orang Wahabi tidak istiqomah. Klasifikasi bid‘ah seringkali ditentukan sepihak oleh mereka. Namun ketika mereka sendiri melakukan amal ibadah tertentu yang bersifat bid‘ah, mereka tidak komentar apapun, bahkan merasa nyaman dengan amal itu. 

Rais Syuriyah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Jember, Jawa Timur KH Muhyiddin Abdusshomad mengatakan perihal itu dalam pelatihan aswaja dan empat pilar di Kantor PBNU, Jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Sabtu (20/7) sore.

KH Muhyiddin Abdusshomad menunjuk sejumlah praktik ibadah yang terdapat di bulan suci Ramadhan. Ia menyebut doa panjang seraya menangis saat sembahyang Tarawih di malam ke 27 dan 29 Ramadhan.

“Ini tidak terdapat dalam hadis Rasulullah SAW apalagi Al-Quran,” tegas KH Muhyiddin Abdusshomad di hadapan sedikitnya 100 peserta pelatihan.

Belum lagi misalnya, lanjut KH Muhyiddin Abdusshomad, mereka mematok satu juz Al-Quran setiap malamnya. Hal ini dimaksudkan agar Al-Quran bisa dikhatamkan selama bulan Ramadhan.

Kita baru mencatat ketidakistiqomahan pikiran ini di dalam bulan Ramadhan. Sementara praktik ibadah yang termasuk bid‘ah di luar bulan Ramadhan lebih banyak lagi ditemukan.

Penentuan bid‘ah secara sepihak sementara mereka juga mengerjakan bid‘ah dalam bentuk lainnya, merupakan tindakan sewenang-wenang dan kezaliman dalam beragama.

Pelatihan Aswaja dan Empat Pilar berlangsung dari Jum‘at-Ahad (19-21/7). Pelatihan diikuti oleh kader Himpunan Da‘iyah dan Majelis Taklim Muslimat Nahdlatul Ulama (Hidmat NU) di lima cabang Jakarta dan kader da‘i Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU).

Penulis: Alhafiz Kurniawan/NU.or.id
loading...