Kisah Gus Dur, Luhut Panjaitan dan Ramalan Jadi Presiden

   

SuaraNetizen.com - Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan Republik Indonesia Luhut Binsar Panjaitan mengatakan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) adalah sosok yang teguh pada prinsip. Konsistensi ini terus berlangsung sejak ia mengenal pertama kali hingga Gus Dur wafat.

Luhut mengaku pertemuan dengan Gus Dur dimulai ketika ia masih berpangkat letnan kolonel melalui Beni Murdani. Pada tahun 1999, Luhut yang saat itu akan diangkat menjadi duta besar bertemu di Kramat Jati, Jakarta Timur. Dalam obrolan sambil menunggu buka puasa kala itu, Gus Dur mengungkapkan tentang dirinya yang sebentar lagi akan jadi presiden.

“Waktu itu bulan Juni pas bulan puasa, saya langsung kaget dan keceplosan mengatakan, beneran itu, Gus?” katanya dalam peringatan haul ke-6 Gus Dur yang diselenggarakan Partai Kebangkitan Bangsa, Selasa (22/12), di Aula DPP PKB, Jakarta.

Tentang ucapanya ini, tambah Luhut, Gus Dur langsung mengatakan bahwa dirinya belum batal puasa. Dengan seperti itu, katanya, Gus Dur benar-benar serius dengan perkataannya, apalagi Gus Dur juga menyebutkan beberapa kiai yang membisikkinya.

“Karena saya tidak ingin cari masalah, dalam hati: ‘sesuka-suka kamu saja, Gus’,” tambahnya.

Luhut juga bercerita tentang tugasnya sebagai duta besar Indonesia untuk Singapura pada era Presiden Habibi yang meyakinkan orang Tionghoa untuk kembali ke Indonesia setelah kerusuhan 1998. Ia meminta bantuan Gus Dur untuk membujuk mereka. Sehingga, digelarlah forum seminar bersama orang Tionghoa yang sejak awal sudah diatur memakai bahasa Indonesia lantaran Luhut tahu bahwa Gus Dur orang pesantren, yang tak piawai berbahasa asing.

Di tengah seminar, salah seorang peserta meminta untuk memakai bahasa Inggris sebab ia tidak begitu paham dengan bahasa Indonesia. “Lantas Gus Dur berbicara dengan bahasa Inggris dengan begitu lancarnya. Saya hanya berbicara ‘paten juga kiai satu ini’,” kata luhut.

Di akhir pembicaraan, Gus Dur lagi-lagi mengatakan dirinya akan menjadi presiden Indonesia kepada peserta. “Dan setelah saya menjadi presiden, saya akan panggil Pak Luhut pulang ke Indonesia, karena tidak cocok menjadi Dubes,” kata Luhut menirukan ucapan Gus Dur.

Sampai akhirnya, ketika Gus Dur terpilih menjadi presiden, Luhut Binsar Panjaitan dipanggil pulang dan dipercaya menjabat sebagai Menteri Perindustrian dan Perdagangan. (Faridurrahman/Mahbib Khoiron/NU.or.id)

loading...