Ini Jawaban Mengapa Taat Pribadi sanggup Menghimpun Ribuan Orang untuk jadi Pengikutnya?


SuaraNetizen.com - Walaupun temuan polisi menyimpulkan ada dugaan penipuan penggandaan uang yang melibatkan pimpinan sebuah padepokan di Probolinggo, Jawa Timur, sebagian pengikutnya tetap meyakini pimpinannya tidak melanggar hukum.

Sementara, seorang sosiolog menganalisis praktik penipuan ini mampu melibatkan ribuan orang, termasuk seorang akademisi dan politikus, karena sebagian masyarakat masih bersikap irasional dan terperdaya kebudayaan 'ingin cepat kaya'.

Taat Pribadi, yang berusia 46 tahun, pembina Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng di Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, telah dijadikan tersangka oleh polisi dalam kasus pembunuhan dan penipuan.

Taat diduga terlibat pembunuhan dua orang bekas anak buahnya, yaitu Abdul Ghani dan Ismail Hidayah. Mereka dibunuh karena khawatir akan membocorkan dugaan praktik penipuan penggandean uang, kata polisi.

"Dia (Taat Pribadi) yang menyuruh (pembunuhan)," kata Kahumas Polda Jawa Timur, Kombes Argo Yuwono, Senin (03/10) di Probolinggo, seperti dilaporkan wartawan Radio Elshinta di Probolinggo, Mustaghfirin untuk BBC Indonesia.

Senin (03/10), kepolisian telah menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan ini di padepokan milik Taat di Probolinggo.
Menurut polisi, kasus pembunuhan ini melibatkan sembilan orang pengawalnya yang sebagian di antaranya diyakini mantan anggota TNI.

Lima orang di antaranya masih dinyatakan buron.

Dalam perkara penipuan, Polda Jatim mengaku telah menerima laporan empat orang yang mengaku ditipu oleh Taat Pribadi.

"Keempat orang pelapor ini, kalau kita jumlah kerugiannya sekitar Rp2,2 milyar," kata Argo Yuwono melalui hubungan telepon, Senin petang.

Mereka mengaku dijanjikan uangnya akan berlimpah apa bila bersedia menyetor uang yang disebut sebagai mahar, tetapi janji ini tidak pernah direalisasikan, kata polisi.

Marwah Daud akan diperiksa
Salah-seorang yang meyakini bahwa Taat Pribadi mampu menggandakan uang adalah Marwah Daud Ibrahim, kelahiran 1956, politikus Partai Gerindra dan anggota Dewan pakar Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia, ICMI.

Dalam wawancara kepada berbagai media, Marwah -yang juga merupakan ketua Yayasan Dimas Kanjeng - berkali-kali menyebut bahwa Taat mampu menggandakan uang.

"Ini tidak ilmiah. Bukan dimensi (ilmiah)yang kita pakai. (Tapi) Dimensi yang kita lihat dan Anda yakin. Tidak ada yang lain, kecuali kuasa Allah. Faktanya begitu," kata Marwah kepada wartawan.

Dia juga meyakini bahwa Taat tidak melakukan penipuan seperti dituduhkan polisi berdasarkan laporan sejumlah orang yang mengaku sebagai korban.

"Jangan kriminalisasi ... tidak ada (penipuan)," kata Marwah.

BBC Indonesia telah menghubungi Marwah Daud melalui telepon genggamnya, Senin (03/10) malam, tetapi yang bersangkutan menolak diwawancarai dengan alasan dirinya 'sedang ada rapat'.

Polda Jatim menyatakan akan memeriksa Marwah Daud dalam kapasitas ketua Yayasan Dimas Kanjeng, tetapi belum menyebut kapan persisnya.

"Pasti, kita akan memeriksa semua yang berkaitan dengan kasus ini," kata Kahumas Polda Jawa Timur, Kombes Argo Yuwono.

Kesaksian dua murid

Salah-seorang tersangka pembunuhan bekas anggota padepokan Dimas Kanjeng saat rekonstruksi, Senin (03/10).

Dua orang yang mengaku sebagai murid Taat Pribadi adalah Imam Suhardi (63 tahun), warga kota Trenggalek, dan Aming (52 tahun) asal kota Jember, Jatim.

Mereka meyakini bahwa gurunya memiliki keahlian, misalnya, mendatangkan uang atau benda-benda lain 'secara tiba-tiba'.

"Demi Allah, itu saya alami ... nasi kuning, apel, buah pir, anggur, itu datangnya tiba-tiba," kata Aming.

Sementara, Imam meyakini Taat Pribadi memiliki aset yang jumlahnya 'luar biasa'.

"Ini betul, bukan omong kosong," kata Imam, kepada wartawan Radio Elshinta Mustaghfirin dan wartawan lainnya di Probolinggo.

Namun temuan polisi menunjukkan semua yang dilakukan Taat Pribadi adalah tipuan untuk meyakinkan para pengikutnya.

"Setelah korban memberikan mahar, diberi pen yang disebut akan membuatnya bisa menguasai tujuh bahasa asing," ungkap Argo, menirukan seorang korban.

Korban juga diberi sebuah kotak yang disebut 'ATM dapur' yang berisi antara lain tulisan Arab.

"Korban dijanjikan bahwa uang yang di dalam kotak tidak akan habis uangnya, walaupun terus diambil. Diambil, akan ada lagi Rp5 juta," tambahnya.

Tetapi, menurutnya, janji adanya uang yang terus bertambah, ternyata tidak kunjung terjadi. "Inilah modus penipuannya," tandas Argo.

Mengapa masyarakat terperdaya?

Sosiolog dan staf pengajar Fakultas ilmu sosial politik, Universitas Airlangga, Surabaya, Hotman Siahaan mengatakan praktik penipuan ini mampu melibatkan ribuan orang, karena sebagian masyarakat masih bersikap irasional dan terperdaya kebudayaan 'ingin cepat kaya'.

Tapi Hotman mengaku heran dengan keterlibatan sosok Marwah Daud Ibrahim, yang dikenal sebagai intelektual dan politikus, meyakini praktik penipuan Taat Pribadi yang disebutnya sebagai 'semacam sulap-sulapan'.

"Beliau ini intelektual, akademisi yang terkenal, lalu tiba-tiba sangat irasional melihat perkara ini dan begitu membela Kanjeng Dimas," kata Hotman.

Dia menduga kapasitas intelektual Marwah menjadi hilang karena politikus Partai Gerindra ini terpikat 'pendekatan' yang ditawarkan Taat.

"Kemampuan akademisnya hilang, pemikiran intelektualnya hilang, karena (apa yang diklaim Taat Pribadi) dianggap benar," kata Hotman.

Mengomentari ribuan orang lainnya yang terpikat bujukan pemilik padepokan Kanjeng Dimas itu, Hotman menduga hal ini hasil kerja keras anak buahnya yang mampu menggambarkan sosok Taat secara ideal.

"Ada mistifikasi terhadap figur, memiliki wibawa, menganggap sebagai maharaja, itu membuat ketertarikan orang lain," ujarnya.
Namun diakuinya ketertarikan itu juga tidak terlepas dari mental instan alias ingin cepat jaya yang diidap sebagian anggota masyarakat.

Hotman menawarkan perlunya 'revitalisasi kesadaran intelektual' masyarakat agar tidak terjerembab kebudayaan ujug-ujug alias kebudayaan instan di tengah maraknya perilaku yang konsumtif. (BBC)

loading...