Haji Ajaib, Tukang Becak Depan Masjid Jami Lasem Pulang dari Mekkah, Diajak Berhaji Sosok Ghaib


REMBANG - Kisah Haji Ajaib Pak Kasrin - Kasrin si tukang becak naik haji misterius itu makin ramai diperbincangkan. Setelah 44 hari "menghilang" dari rumahnya di Dukuh Gembul, Desa Sumberjo, Kecamatan Pamotan Kabupaten Rembang Jawa Tengah, dia pulang dari "naik haji" dengan membawa sejumlah oleh-oleh.

Kasrin yang pulang ke Rembang tanggal 4 Oktober 2016, sangat dielu-elukan oleh keluarga serta kerabatnya. Dia pun bawa oleh-oleh antara lain sajadah, tasbih, mukena, teko dan gelas kecil-kecil khas Arab Saudi, serta tak ketinggalan air zamzam sebanyak satu jeriken.

Oleh-oleh yang Kasrin bawa pulang adalah bentuk nyata. Namun kepergiannya, selama perjalanan, naik bus ke Donohudan, naik pesawat, dan selama berada di Tanah Suci, masih misterius. Hanya dia yang tahu, dan tentu saja Allah Maha Tahu segalanya.


Saat Tribun Jateng mengunjungi rumahnya, suasana berubah makin ramai. Banyak tetangga, teman kerja tukang becak, kerabat bercengkerama di rumah sederhana itu. Kasrin mengenakan pakaian layaknya orang baru pulang ibadah haji. Baju koko putih, dan peci atau kupluk warna putih. Senyumnya pun makin mudah tersunggih di wajahnya. Sesekali tangannya tak bisa menahan ketika ditarik orang untuk disalami dan diciumnya.

Sejumlah botol berisi air putih berada di meja depan duduk Kasrin. Botol-botol itu selanjutnya dibawa pulang oleh tamunya setelah didoakan oleh Kasrin.

Tukang becak yang biasa mangkal di Masjid Jami' Lasem Kabupaten Rembang itu memaparkan pengalamannya selama berada di Tanah Suci. Dia memang tidak terdaftar di kantor Kemenag Rembang. Tak ada di listing daftar jemaah haji 2016. Jadwal kepulangan Kasrin pun tanggal 4 Oktober sebagaimana jadwal resmi jemaah haji Rembang.


Anak Kasrin bernama Istiqomah tampak sibuk melayani tamu-tamu yang datang ke rumah ayahandanya hingga tengah malam. Tamu yang datang pun bukan hanya dari Rembang semata. Namun tidak sedikit yang berasal dari luar Rembang. Mulai Pati, Kudus, Jepara hingga Semarang. Mereka penasaran dengan kisah Kasrin si "Haji Ajaib".

Menurut penuturan Kasrin, sejak berangkat pada Selasa 23 Agustus lalu, dia tak pernah berpisah dengan Bu Indi. Nama itu memang disebut sejak awal dalam kisah perjalanan Kasrin. Bu Indi adalah sosok makhluk dari dunia lain alias makhluk halus (jin). Meski Indi adalah makhluk halus, namun menurut cerita Kasrin, Indi telah 21 tahun ini menjadi langganannya sebagai penumpang becak.

Rumah Bu Indi tak jauh dari Balai Desa Ngemplak, Kecamatan Lasem, Rembang. Sebelum "kenal" Indi alamat yang disebutkan Kasrin tersebut hanya berupa hamparan tanah kosong. Sebagaimana orang melihat bahwa alamat yang dimaksud adalah tanah lapang ilalang. Tapi bagi Kasrin, di tanah kosong itu sebenarnya secara gaib ada rumah mewah milik Bu Indi.

"Tapi sejak mengenal Indi, dalam pandangan saya di situ ada rumah. Mungkin kalau yang lihat orang lain, ya masih berupa tanah kosong, tak ada rumah di situ," ucapnya.

Lebih lanjut dikatakannya, sejak berangkat dari Lasem, Indi selalu berada di dekatnya. Ia diperintahkan oleh Indi, untuk memegangi pakainan bagian belakang sosok perempuan dari dunia lain itu. "Di dalam bus saat berangkat, bu Indi duduk di samping saya. Kami duduk di bagian tengah, tapi sepertinya orang-orang di bus tak menyadari keberadaan kami," lanjut dia.

Sesampainya rombongan di Debarkasi Donohudan, Boyolali, hal serupa juga dialami Kasrin. "Sesampainya di Solo dulu ya naik pesawat bareng-bareng dengan rombongan dari Rembang. Ya naik begitu saja, gak diperiksa atau gimana-gimana," aku Kasrin.

Kasrin diwanti-wanti jangan sampai terlepas dari Bu Indi. Jika sampai terpisah Kasrin tak akan bisa pulang kembali ke tanah air. "Di sana, di tanah suci selama 44 hari menunaikan ibadah haji, saya selalu nginthil (mbuntuti) bu Indi. Baik saat sa'i, tawaf mengelilingi ka'bah, salat, dan lain-lain," cerita dia.

Bahkan, ia pun menginap di pemondokan bareng Indi. "Saya nginap di sebuah bangunan dua lantai. Jadi ke mana pun bu Indi berada, saya ada di situ. Makan bareng, tidur bareng, semuanya bersama gak boleh pisah," sambungnya.

Tak hanya diminta untuk terus berada di dekat Indi, Kasrin pun diperintahkan untuk tak berkomunikasi dengan orang lain, tanpa seizin perempuan tersebut. "Semua kebutuhan saya sudah dipenuhi bu Indi," kata dia.

Saat Hari Kurban pun, Kasrin dan Indi masing-masing berkurban satu ekor unta. "Satu unta untuk kelurga di sini, satu unta untuk keluarga bu Indi. Harga satu ekornya Rp 17 juta, beli pakai duitnya bu Indi. Saya hanya nyumbang Rp 2 juta, uang saku yang saya bawa dari rumah saat berangkat," tuturnya. (Tribunnews)

loading...