Gelorakan Semangat Hari Santri, Said Aqil: Islam itu Ramah, Mengajak bukan Mengejek

  
Peringatan Hari Santi Nasional (Foto: Muhammad Fida Ul Haq/detikcom)

Jakarta - Ribuan santri memperingati Hari Santri dengan mengikuti apel di lapangan Monas. Seluruh peserta apel berasal dari kalangan santri, termasuk petugas Paskibra.

Apel ini juga diwarnai dengan pertunjukan drumband dan penyerahan Rekor Muri atas dua kategori. Yakni kirab budaya terpanjang dari Banyuwangi ke Banten sepanjang 2.000 km yang dilakukan oleh para santri. Kemudian amalan 1 miliar salawat secara serentak di Indonesia.

Hadir dalam apel Hari Santri ini para tokoh NU seperti Ketum PBNU Said Aqil Siradj, Menpora Imam Nahrawi, Ketum PKB Muhaimin Iskandar, Wakapolri Komjen Syafruddin dan Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan. Dalam sambutannya, Said Aqil mengingatkan agar para santri tidak melupakan jasa para ulama yang turut berjuang melawan penjajah.

"Kaum santri berhasil merobek kain biru menjadi merah putih di Surabaya adalah hal yang tidak bisa dilupakan. Kaum santri berhasil merebut kmebali Surabaya pada waktu itu. 21 syuhada gugur," kata Said di Monas, Gambir, Jakarta Pusat, Sabtu (22/10/2016).

Said mengatakan, tanpa resolusi jihad NU, tidak akan terjadi peristiwa 10 November yang kini diperingati sebagai Hari Pahlawan. Bahkan menurutnya, resolusi jihad NU juga berperan dalam mewujudkan pembacaan teks proklamasi. Berkat jargon 'hubbul wathon minal iman' yang digaungkan KH Hasyim Asy'ari, semangat para santri untuk membela kemerdekaan Indonesia kala itu bangkit.

Said juga mengingatkan agar para santri tidak terbawa isu radikalisme. Islam menolak kekerasan, oleh karenanya paham radikal seperti ISIS harus dilawan. Toleransi antar umat beragama juga harus diperkuat.

"NU selalu mengajarkan Islam ramah bukan marah, mengajak bukan mengejek," tutur Said. (khf/tor/detikcom)

loading...