FPI sebut Putri Bung Karno Gagal Paham dan Gak Cerdas soal Pancasila

SuaraNetizen.com - Sekretaris Jenderal DPD Front Pembela Islam (FPI) DKI Jakarta Novel Chaidir Hasan Bamukmin menyebutkan, puteri Presiden pertama Soekarno, Sukmawati Soekarnoputri gagal paham dan kurang cerdas.

Pernyataan Novel ini terkait pelaporan Sukmawati atas Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq Shihab ke Bareskrim Mabes Polri, atas dugaan melecehkan Pancasila dan Soekarno yang ikut merumuskan Pancasila.

"Yang kita lihat Sukmawati gak cerdas, gagal paham dia. Yang dilaporkan kan lambang negara. Lambang negara kan Garuda. Sedangkan yang kita pahami itu dasar negara, yaitu Pancasila," kata Novel kepada Netralnews.com, Sabtu (29/10/2016).

Berikut penjelasan Novel mengenai rumusan Pancasila sesuai dengan apa yang juga disampaikan ketua FPI Habib Rizieq.

Pada tgl 1 Juni 1945 Ir. Soekarno dalam Sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) mengusulkan Pancasila sebagai Dasar Negara RI dengan susunan sebagai berikut:

1. Kebangsaan Indonesia
2. Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan
3. Mufakat atau Demokrasi
4. Keadilan Sosial
5. Sila Ketuhanan

Ini Pancasila Soekarno. Artinya dalam susunan Pancasila Soekarno, Sila Ketuhanan dijadikan "sila buntut", yaitu sila kelima atau sila yang terakhir.

Usulan Bung Karno tersebut digodok oleh Tim Sembilan bentukan BPUPKI yang beranggotakan: Kelompok Nasionalis Islami yaitu KH Wahid Hasyim (NU), KH Abdulqohar Mudzakkir (Muhammadiyah), KH Agus Salim (SI) dan Abikoesno Tjokrosoejoso, lalu Kelompok Nasionalis Sekuler yaitu Soekarno, M Hatta, M Yamin, dan Ahmad Soebardjo, serta seorang Nasrani yaitu AA Maramis.

Akhirnya, pada 22 Juni 1945 Putusan Tim Sembilan disepakati oleh Sidang BPUPKI bahwa Pancasila sebagai Dasar Negara dengan susunan sebagai berikut:

1. Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan Syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Inilah Pancasila Piagam Jakarta yang merupakan Konsensus Nasional disepakati oleh para Founding Father Bangsa Indonesia, termasuk Bung Karno.

Artinya, Bung Karno dengan jiwa besar menyadari bahwa Sila Ketuhanan tidak boleh dijadikan sebagai "sila buntut".

Selanjutnya, sehari setelah proklamasi kemerdekaan, pada 18 Agustus 1945 melalui Sidang PPKI (Pantia Persiapan Kemerdekaan Indonesia) menetapkan Pancasila Piagam Jakarta sebagai Dasar Negara dengan sususan sebagai berikut:

1. Ketuhanan Yang Maha Esa.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab.
3. Persatuan Indonesia.
4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Inilah Pancasila 18 Agustus 1945 yang mengubah Sila Ketuhanan dari ikatan "syariat" kepada ikatan "tauhid".

Akhirnya, melalui Dekrit Presiden Soekarno, 5 Juli 1959, menetapkan bahwa dasar negara adalah Pancasila yang dijiwai Piagam Jakarta yang menjadi satu kesatuan Konstitusi yang tak terpisahkan. Dan ini berlaku hingga sekarang.

Kesimpulannya, Bung Karno yang semula mengusulkan Sila Ketuhanan sebagai "sila buntut", namun akhirnya justru beliau bersama para ulama yang memperjuangkan mati-matian agar Sila Ketuhanan selalu menjadi "sila kepala".

"Alhamdulillah, ternyata Pancasila bukan hanya karya Bung Karno, tapi karya segenap para founding father bangsa dan negara Indonesia, termasuk Bung Karno dan para Kyai dari NU, Muhammadiyah, dan Syarikat Islam, serta lainnya," ungkapnya. (Netralnews/SN)

loading...