Fahri Hamzah Kritik Jokowi dan Menganalogikannya Seperti Pengkultusan Dimas Kanjeng

  

SuaraNetizen.com - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah angkat bicara soal fenomena Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Fahri memberikan komentar terkait "orang sakti" yang katanya bisa menggandakan uang sampai miliaran rupiah tersebut. Menurutnya, kemunculan Dimas Kanjeng membuktikan bahwa segala hal yang tertutup itu sangat berbahaya. Apalagi di alam demokrasi, sebuah sistem yang harus memberikan ruang kepada publik untuk bertanya, mendebat, dan berdialektika.

Melalui akun sosial Path, fahrihamzah memberikan analisisnya soal bahaya jika negara memberikan ruang tertutup dalam kehidupan sosial dan politik. Berikut catatan Fahri Hamzah

"Setelah ada orang macam Dimas Kanjeng itu baru tahu kita bahwa kritis itu penting. Orang seperti Dimas Kanjeng itu banyak, produk dari masyarakat yang tidak rasional. Bayangkan, sekelas Dimas Kanjeng yang tidak rasional saja banyak yang dukung, bagaimana kalau Presiden yang tidak rasional? Perang melawan takhayul ini memang harus serius. Apalagi takhayul dalam public policy. Sangat bahaya. Tidak jarang kita mendengar sebuah keputusan publik diambil dengan pertimbangan yang aneh. Ada politisi yang lebih senang berteman dan mendengar dukun daripada analisis ilmiah dan pandangan para profesor.

"Dan yang unik karena justru banyak dukun yang mengaku menjadikan agama sebagai sebab pengetahuan dan kesaktiannya. Padahal semua hanya kedok untuk menutupi kenyataan bahwa yang bersangkutan memelihara jin. Bangsa jin memang ada dan dalam agama kita wajib percaya akan adanya alam gaib. Tapi ada orang yang tidak hanya percaya tapi malah bergaul dan mengambil keuntungan dari alam gaib. Jin memang bisa melakukan banyak pekerjaan yang memukau kita yang terbiasa kasat mata sementara mereka tak tampak. Jalan pintas ini dilakukan oleh banyak orang termasuk pemuka agama dari berbagai agama kadang untuk menambah pengikut dan massa.

"Tidak ada kemajuan tanpa rasionalitas dan tidak ada kejayaan tanpa kerja keras. Orang semacam Dimas Kanjeng itu pada dasarnya hanya penipu kecil jika menipu uang orang yang percaya. Karena penipu besarnya akan merampas syarat kemajuan dan sukses kita, selamanya kita jadi bodoh dan malas. Inilah sebabnya kita membangun sistem terbuka, agar pemimpin jangan mudah menipu kita. Orang ditipu Dimas Kanjeng sebab orang tidak tahu hidupnya. Dia tertutup dan misterius. Dalam masyarakat yang tidak rasional, hal-hal yang tidak rasional dan misterius kadang menjadi sebab kekaguman dan wibawa.

"Ini abad 21 milenium ke-3, yang beginian ini harusnya sudah tidak bisa diterima. Tapi faktanya masih banyak. Maka kita harus menyongsong masyarakat terbuka. Pribadi bangsa Indonesia harus mulai terbuka. Organisasi juga harus terbuka. Sebab yang tertutup berpotensi menyimpan banyak masalah. Bayangkan Dimas kanjeng telah beroperasi sejak 2006 berarti 10 tahun dan kita tidak sadar apa yang terjadi. Dimas Kanjeng sebagai pusat dari segalanya boleh melakukan segalanya karena ketertutupan membuat dia menjadi kultus.

"Lalu orang-orang membangun argumen untuk membenarkannya secara ilmiah dan juga secara paksa. Yang melawan bisa diisolasi sampai gila. Yang menentang bisa dibunuh dengan cara yang gila. Presiden dalam hal ini sebagai orang nomor satu di Republik ini jangan sampai berbau mistis dan tidak logis. Kalau tidak bisa dan tidak biasa bicara, angkat juru bicara yang fasih dan punya nalar yang baik.

"Presiden jangan tertutup. Kemana-mana pergi tapi rakyat tidak tahu apa yang dipikirkan, apa yang direncanakan, apa hasilnya dll. Presiden Indonesia harus meletakkan dasar pengelolaan urusan publik secara rasional dan terbuka," pungkasnya. (Wartaekonomi)

loading...