Cerita Kesalehan Jenderal Sudirman yang Rajin Salat Malam


TRENGGALEK - Sejumlah ulama, kiai dan ustadz yang sering menceritakan bahwa Jenderal Sudirman mempunyai 'jimat' saat perang gerilya dengan tanpa pernah meninggalkan wudhu' ternyata bukan hanya isapan jempol belaka. Begitupun saat diceritakan kesalehan Jenderal Sudirman yang selalu mendirikan salat di awal waktu juga tidak keliru.

Justru yang perlu diketahui generasi saat ini sebagai sebuah pelajaran berharga dari sosok pahlawan kemerdekaan ini, Jenderal Sudirman sangat rajin melaksanakan salat malam.

Setidaknya hal tersebut yang sampai saat ini masih sangat dikenang masyarakat Krajan RT 03/RW 01 Bodag Panggul, Trenggalek, Jawa Timur. Ya, panglima besar TNI tersebut ternyata pernah singgah di dusun tersebut selama tiga hari saat berlangsung perang gerilya.

"Menurut cerita dari pinisepuh, saat berada di rumah Keluarga Bapak Moch Ngabdi, Pak Dirman rajin salat. Bahkan selalu melaksanakan salat malam. Padahal cuma tiga hari, tapi benar-benar berkesan bagi warga sini," tutur Kepala Desa Bodag Panggul, Trenggalek, Purwito saat menerima Tim Travel Heritage Dinas Kebudayaan DIY, sebagaimana dikutip dari KRjogja, Sabtu (15/10/2016).

Saat ini, rumah Moch Ngabdi yang dulunya merupakan guru ngaji dan pemuka masyarakat setempat tersebut dijadikan monumen tempat peristirahatan Panglima Besar Jenderal Sudirman dan sudah direnovasi pada 5 November 2003 oleh Letkol R Srenggoro Putro. Secara umum, rumah tersebut bentuknya masih seperti aslinya dulu.

Sejumlah benda yang pernah digunakan Jenderal Sudirman selama beristirahat di rumah tersebut juga masih terawat dengan baik, seperti sajadah, sorban, bokor, Alquran hingga tempat tidur yang dipakai sang jenderal.

Di rumah tersebut juga terpasang banyak foto Jenderal Sudirman dalam berbagai kegiatan hingga massa pelayat yang memenuhi kompleks Masjid Gedhe Kauman saat beliau selesai disalatkan dan hendak dimakamkan di TMP Kusumanegara.

"Keluarga sengaja merawat tempat ini dan menjaga keasliannya. Tiap tahun anak cucu Moch Ngabdi juga memakai rumah ini sebagai tempat berkumpul sekaligus mengenang Pak Dirman," ucap Purwito.

Menurut Purwito, berdasarkan cerita secara turun-temurun, dahulu banyak warga yang berebut ikut mengangkat tandu Pak Dirman. Beberapa saksi sejarah masih bisa dijumpai meski tidak bisa lagi menceritakan secara detil karena faktor usia dan penurunan daya ingat. Wilayah peristirahatan ini menurut Purwito memang cocok dijadikan tempat persembunyian.

Letaknya dikelilingi pegunungan dengan keberadaan hutan yang cukup lebat ketika itu. Selain itu, posisinya merupakan perbatasan antara Trenggalek dan Pacitan sehingga mempermudah akses komunikasi. Namun begitu, ada sumber air yang dekat dengan lokasi sehingga memudahkan pejuang untuk memertahankan diri di tengah kekurangan bahan makanan. (put/okezone)
loading...