Vaksin Palsu, Kejahatan yg tak Tersentuh di jaman SBY, dibinasakan di Jaman Jokowi


SuaraNetizen.com - Seusai menyaksikan proses vaksinasi ulang terhadap 36 anak di Puskesmas Ciracas, Jakarta Timur, Presiden Jokowi meminta masyarakat tetap tenang dalam menyikapi kasus vaksin palsu yang marak di Jakarta dan sekitarnya.

"Saya datang ke sini ingin memastikan bahwa masyarakat mendapatkan informasi yang benar, mendapatkan penjelasan yang baik dari puskesmas maupun dari kementerian dan juga pelayanan dari Kementerian Kesehatan dan Dinkes DKI. Kedua, saya ingin menyampaikan agar masyarakat tetap tenang karena ini, sekali lagi peristiwa ini adalah menyangkut waktu yang lama, perlu kehati-hatian dan perlu penelusuran dalam jangka waktu yang panjang," kata Jokowi di Puskesmas Ciracas, Jakarta Timur, Senin (18/7).

Menurut Jokowi, ketenangan diperlukan karena perlu waktu lama serta kehati-hatian dalam menguak kasus vaksin palsu dan juga kehati-hatian dalam mendata siapa saja yang dirugikan, sehingga semua korban bisa mendapatkan vaksinasi ulang.

Di sisi lain, Jokowi memastikan telah memerintahkan kapolri dan kabareskrim untuk terus mendalami kasus vaksin palsu tersebut, hingga semua pelakunya tertangkap dan mendapatkan hukuman yang setimpal.

"Saya sudah perintahkan kepada kapolri dan kabareskrim untuk meneliti satu per satu secara detail jaringan dan pelaku-pelaku vaksin palsu ini sehingga ke depan tidak terulang lagi," tegas Jokowi.

Vaksinasi Ulang
Di hadapan masyarakat, Jokowi juga berjanji pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemkes) secara bertahap akan terus melakukan vaksinasi ulang untuk korban vaksin palsu sampai selesai.

"Terus ini (vaksinasi ulang, red) bertahap sampai selesai. Ini bertahap sampai selesai, tetapi satu per satu. Sekali lagi, ini kurun waktu yang lama, Pak Kabareskrim tadi saya tanyakan juga meneliti satu per satu secara detail. Tidak serampangan. Kemkes, kepala Dinkes DKI juga sama supaya kejadian ini tidak terulang lagi," ungkapnya.

Selanjutnya, kepada masyarakat, yang merasa anaknya telah menjadi korban, tetapi belum mendapatkan undangan divaksin ulang, Jokowi mempersilakan untuk mendaftar ke puskemas terdekat atau ke posko pengaduan yang ada.

Lebih lanjut, Jokowi menyatakan kasus vaksin palsu ini adalah momentum untuk memperbaiki tata kelola distribusi obat di Tanah Air.

"Yang terkahir, saya melihat ini adalah sebuah momentum untuk memperbaiki tata kelola distribusi, baik menyangkut industri farmasi, menyangkut industri dan distribusi obat-obatan, termasuk vaksin dan tujuan kita adalah seluruh masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang baik. Saya kira golnya ke sana," tutupnya.

Untuk diketahui, Kepolisian telah menetapkan 23 tersangka terkait kasus pembuatan, penyebaran, dan penggunaan vaksin palsu. Perinciannya, produsen enam orang, distributor sembilan orang, pengumpul botol bekas vaksin dua orang, pencetak label satu orang, dua bidan, dan tiga dokter. (Beritasatu)

loading...