Turki keluarkan Larangan Menyalati Pendukung Kudeta yang Tewas


SuaraNetizen.com, ANKARA – Lembaga agama Turki melarang para imam untuk menyalati para personel militer pro-kudeta yang tewas dalam upaya perebutan kekuasaan yang gagal pada 15 Juli 2016 lalu. Perintah ini muncul di tengah maraknya pembersihan yang dilakukan pemerintah dengan melakukan penangkapan dan pemecatan terhadap lebih dari 50 ribu orang.

Diwartakan Russia Today yang mengutip kantor berita Anadolu, Kamis, (21/7/2016), Departemen Agama Turki mengatakan pada Selasa, 19 Juli 2016, para imam tidak lagi diperbolehkan untuk memimpin salat untuk para “tentara pro-kudeta yang menargetkan negara kita”. Namun, disebutkan bahwa larangan itu tidak berlaku bagi mereka yang tidak tahu menahu telah ikut atau mereka yang dipaksa ikut dalam kudeta.

Diyanet, atau Departemen Agama Turki diperkirakan mempekerjakan 100 ribu pegawai, termasuk diantaranya 75 ribu orang imam. Sebelumnya, pada Selasa pagi Diyanet telah memecat 492 stafnya karena dicurigai memiliki kaitan dengan kelompok pro-kudeta.

Menyusul upaya kudeta yang gagal pekan lalu, Pemerintah Turki telah melakukan pembersihan besar-besaran terhadap mereka yang dicurigai atau ikut serta dalam usaha penggulingan kekuasaan dan pada mereka yang memiliki hubungan dengan Fethullah Gulen, ulama oposisi yang dituduh mendalangi kudeta walaupun belum ada bukti kuat.

Sekira 50 ribu tentara, polisi, hakim, pegawai negeri, dan guru telah dipecat atau ditahan terkait kudeta gagal yang menewaskan sedikitnya 232 orang dan melukai ribuan lainnya itu. (Okezone) 

loading...