Soal Ekstradisi Ulama Gulen, AS: Turki Harus Berikan Bukti Bukan Tuduhan

Yakin Tak Akan Diekstradisi, Ulama Gulen Sebut Aturan Hukum Berkuasa di AS

Fethullah Gullen (Foto: REUTERS/Greg Savoy

SuaraNetizen.com - Pemerintah Turki menuding Fethullah Gulen yang bermukim di Amerika Serikat, mendalangi upaya kudeta di Turki dan mendesak pemerintah AS untuk mengekstradisi ulama terkenal itu.

Atas hal ini, Menteri Luar Negeri AS John Kerry menyatakan bahwa pemerintah Turki harus memberikan bukti untuk mendukung permintaan ekstradisi Gullen terkait upaya kudeta pada Jumat, 15 Juli lalu.

"Saya mendesak Menteri Luar Negeri untuk memastikan bahwa dalam portofolio dan permintaan apapun yang mereka kirim kepada kami, mereka harus mengirimkan bukti, bukan tuduhan-tuduhan," ujar Kerry saat konferensi pers di Brussels, Belgia seperti dilansir kantor berita AFP, Senin (18/7/2016).

"Kami perlu melihat bukti asli yang sesuai dengan standar pengawasan yang ada di banyak negara terkait sistem ekstradisi," imbuhnya.

Kerry juga mengomentari penangkapan besar-besaran yang dilakukan otoritas Turki usai upaya kudeta.

"Kami dengan tegas menyerukan pemerintah Turki untuk menjaga ketenangan dan stabilitas di seluruh negara, dan kami juga menyerukan pemerintah Turki untuk mempertahankan standar tertinggi penghormatan untuk institusi demokrasi negara dan aturan hukum," tegasnya.

Percobaan kudeta di Turki pada Jumat (15/7) malam gagal setelah pendukung Erdogan turun ke jalanan dan melakukan perlawanan. Hingga kini, sedikitnya 6 ribu orang termasuk tentara dan hakim yang mendukung kudeta ditangkap.

Erdogan menuding Gulen sengaja menyusun 'struktur paralel' dalam tubuh pengadilan, kepolisian, militer dan media Turki demi melancarkan percobaan kudeta pada Jumat (15/7) malam. Gulen membantah tuduhan itu dan balik menuding Erdogan mendalangi upaya kudeta itu.

"Saya tidak yakin dunia mempercayai tudingan yang dilontarkan Presiden Erdogan. Ada kemungkinan bahwa itu percobaan kudeta yang direncanakan dan sengaja dimaksudkan untuk tudingan lebih lanjut (terhadap Gulen dan para pengikutnya)," ucap ulama berumur 75 tahun yang dulunya merupakan sekutu dekat Erdogan. (Detik)

loading...