Mereka Lebih Cinta Saudi ketimbang Indonesia, 5 Fakta ini akan Meruntuhkan Cinta Mereka


SuaraNetizen.com - Akhir-akhir ini, kita disuguhkan dengan tontonan masyarakat Muslim Indonesia yang kehilangan jati diri sebagai Muslim yang berada di Indonesia. Terkadang, sikap sebagian Muslim Indonesia berlebihan. Mereka ada yang mengagumi Turki, Arab Saudi, dan Iran sebagai kiblat beragama maupun berpolitik.

Mereka tidak percaya akan kehebatan bangsanya sendiri, Negara Kesatuan Republik Indonesia. Padahal bangsa lain yang diagung-agungkan oleh sebagian Muslim Indonesia itu ternyata juga mengagung-agungkan Barat secara berlebihan.

Berikut 5 fenomena orang Arab yang mengagungkan Barat secara berlebihan yang disarikan dari Facebook Profesor Antropologi asal Indonesia, Sumanto Al Qurtuby, yang bekerja di Arab Saudi.

1. Arab Menggunakan Produk-produk Barat

Sumanto membuat tulisan ini, bukan untuk merendahkan bangsa Indonesia Tercinta. Bukan pula menyerang Arab, khususnya Arab Saudi tempatnya berdomisili saat ini. Tapi dia ingin membangunkan kesadaran warga negara Indonesia di mana saja berada. Agar bisa memilih dan memilah, mana yang bisa dijadikan panutan atau pedoman, serta mana pula yang harus diwaspadai.

Harapannya hanya satu, semoga Indonesia selalu dirahmati oleh Allah Tuhan alam semesta, Pencipta langit dan bumi beserta segala isinya, dan anak-anak bangsa ini tidak menjadi bangsa yang inferior, tidak mudah kagum, dan tidak mudah menjadi beo.

Sumanto melihat hubungan antara Arab (khususnya Arab Teluk), Barat (khususnya Amerika), dan Indonesia (khususnya yang pro-Arab) itu unik, menarik, dan lucu. Menurutnya, negara-negara Arab, khususnya Teluk itu “sangat Barat” dan jelas-jelas pro-Amerika (dan Inggris). Hampir semua produk-produk Barat dari ecek-ecek (semacam restoran fast foods) sampai yang berkelas dan bermerek untuk kalangan berduit, semua ada di kawasan ini.

“Mall-mall megah dibangun untuk menampung produk-produk Barat tadi. Warga Arab menjadi konsumen setia karena memang mereka hobi shopping, bahkan terkadang lalai dengan sembahyang,” imbuhnya.

2. Orang Barat Mendapat Perlakuan Khusus

Orang-orang Barat juga mendapat “perlakuan spesial” di Arab Saudi, khususnya yang bekerja di sektor industri, mereka mendapatkan gaji tinggi dan fasilitas melimpah. Mayoritas orang-orang Arab juga sangat hormat dan inferior dengan orang-orang Barat.

Sumanto sering jalan bareng bersama “kolega bule” ke tempat pameran barang-barang branded tersebut, dan mereka menganggapnya sebagai “jongos” bule itu. Bagi orang-orang Arab, non-bule dari manapun asalnya, apa pun agama mereka,  adalah “kelas buruh”. Sementara orang bule, sekere dan sebego apa pun mereka, beragama atau tidak beragama, dianggap “kelas elit”. Mereka baru menaruh rasa hormat, kalau sudah tahu “siapa kita”.

3. Cabang Universitas Beken di Amerika Ada Semua di Arab

Menurut Sumanto, sejumlah universitas-universitas beken di Amerika juga membuka cabang di Arab Teluk, selain Saudi. Georgetown, New York University, Texas A dan M, Carnegie Melon University contoh beberapa cabang universitas Barat yang ada di Arab.

Di bawah bendera King Abdullah Scholarship, Saudi telah mengirim lebih dari 150 ribu warganya untuk belajar di kampus-kampus Barat, khususnya Amerika, Kanada, Eropa, juga Australia. Tidak ada satu pun yang disuruh belajar ke Indonesia! Sementara (sebagian) warga Indo memimpikan belajar di Arab Saudi.

Lucunya, para fans Arab Saudi dan Arab-arab lainnya di Indonesia, mereka mati-matian men-tuan-kan Arab, sementara Arab sendiri tidak “menggubris” mereka. Para cheerleader Arab ini (para fans Arab di Indonesia) juga mati-matian anti-Barat, padahal orang-orang Arab mati-matian membela Barat.

Sumanto menegaskan lagi bahwa dirinya bukan anti-Arab atau anti-Barat, karena teman baikku banyak sekali dari “dua dunia” ini. Selain itu, dia juga bukan pro-Arab atau pro-Barat. “Saya adalah saya yang tetap orang kampung Jawa.

Daripada “menjadi Arab” atau “menjadi Barat”, akan lebih baik jika kita menjadi “diri kita sendiri” yang tetap menghargai warisan tradisi dan kebudayaan leluhur kita,” akunya seperti dikutip dari Facebooknya.

4. Orang Arab Saudi Remehkan Orang Indonesia

“Itulah orang Saudi. Mereka menganggap kecil sama orang Indonesia, di hotel, di kantor, bahkan mereka menyangka saya cuma tenaga profesional ecek-ecek. Mereka tanya gaji, disangka cuma 2 ribu atau 3 ribu Real. Waktu saya bilang jumlah gaji saya, mereka baru tahu gaji saya sama dengan orang Amerika atau Inggris,” ungkapnya terkait tindakan rasial orang Saudi.

“Mereka tanya, ‘kok bisa begitu?’ Saya bilang, ‘Saya pernah training di Inggris dan di Amerika. Ternyata gaji saya lebih besar dari gaji dokter Saudi. Itulah kenyataannya, dan yang menggaji saya perusahaan di Abu Dhabi yang tidak menganggap rendah karyawannya berdasarkan kebangsaan atau nationality profiling,'” lanjutnya menceritakan.

5. Harapan Sumanto untuk Pemerintah Indonesia

Pria kelahiran Batang, Jawa Tengah ini, berharap mudah mudahan  pemerintah tidak mengirim lagi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau Tenaga Kerja Wanita (TKW), sehingga mereka tidak menganggap orang Indonesia  bangsa budak. Tetapi kirim tenaga terdidik, terutama yang menguasai bahasa Inggris.

“Sekali lagi, Saya bukan anti-Arab dan juga bukan anti-Barat. Saya cuma orang Indonesia yang dipercaya sebagai orang yang bekerja sebagai tenaga ahli yang dibayar berdasarkan keahliannya. Hehehe,” tegasnya berkali-kali.

Pria berusia 40 tahun ini, bercerita dan merasa bangga ketika dirinya keluar dari sebuah hotel di Jeddah, dijemput oleh sopir orang Arab berasal dari Thaif. “Itu suatu kebanggaan bagi saya, karena biasanya yang jadi sopir itu orang Indonesia,” tuturnya membanggakan keindonesiannya.

Profesor Antropologi asal Indonesia, Sumanto Al Qurtuby Dosen di King Fahd University for Petroleum and Gas, Arab Saudi. 

loading...