Kisah Prajurit Kopassus Titipkan Anak Pada Guru Sebelum Berangkat Perang, Ini Baru Prajurit Keren


Gladi resik HUT TNI ke-68. ©2013 Merdeka.com/imam buhori

SuaraNetizen.com - Akhir akhir ini beberapa guru diadili karena menghukum muridnya. Orang tua murid yang tak terima melaporkan guru yang menghukum anaknya. Padahal seringkali justru muridlah yang melanggar aturan sekolah.

Ada kisah menarik bagaimana dulu orang tua murid sangat mempercayai guru untuk mendidik anak mereka. Guru dianggap pengganti saat ayah tak ada.

Berikut kisahnya seperti yang dikutip dari merdeka.com.

Anta (70) seorang pensiunan prajurit Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD kini disebut Kopassus TNI AD), menceritakan dulu tentara sangat menghormati guru. 

Saat itu para prajurit baret merah nyaris tak pernah berada di rumah. Mereka harus terus pergi ke medan perang atau menjalani latihan. 

Dalam setiap operasi RPKAD selalu diterjunkan paling dulu. Anta merasakan operasi melawan DI/TII, PRRI/Permesta, Dwikora hingga penumpasan G30S PKI. 

"Pada guru kami titip anak-anak kami. Pak, mohon dibimbing, diajari sopan santun dan tata krama. Bapaknya harus pergi perang, jarang di rumah," kata Anta saat berbincang dengan merdeka.com beberapa waktu lalu.

Jika guru memukul anak, orang tua nyaris tak pernah komplain. Mereka sadar itu bagian dari proses pendidikan. Apalagi anak tentara yang terkenal dengan sebutan 'anak kolong' dikenal nakal dan berani.

Prayitno, salah seorang anak RPKAD yang tinggal di Batujajar dan Cijantung juga membenarkan bagaimana dulu guru sangat dihormati. Dulu anak-anak tentara dititipkan pada guru karena bapaknya pergi bertempur.

Mengadu pada orang tua gara-gara dihukum guru, bukan dibela. Malah bisa-bisa pulang dipukul dengan kopelrim alias sabuk tentara. Pengalaman seperti itu lazim dirasakan para anak tentara. 

"Kalau salah dihukum ya diterima saja," kata Prayitno.

Sekarang zaman memang sudah berbeda. 

loading...