Kekek Pikun Jamaah Umrah Asal Rembang di Vonis Pengadilan Saudi atas Tuduhan Nggak Jelas


SuaraNetizen.com - Sarman seorang kakek pikun 78 tahun, jemaah umrah asal Kabupaten Rembang, Jawa Tengah dikabarkan telah divonis pengadilan Arab Saudi dengan hukuman 80 kali cambuk dan 6 bulan penjara.

Tentu saja, informasi tersebut tidak saja mengejutkan keluarga, namun juga travel yang memberangkatkannya, PT Anamira.

Salah seorang cucu Sarman, Ahmad Asmui menjelaskan bahwa kakeknya memang sering pelupa sehingga kerap bingung jalan pulang.

“Dari keterangan teman sekamarnya di pemondokan, kakek saya dibawa orang tak dikenal dengan ciri fisik berkulit hitam. Sayangnya tanpa pikir panjang dia mau dan itulah yang terjadi. Baru satu hari di Mekkah, beliau sudah hilang,” terang Asmui melalui pesan singkatnya kepada NU Online, Ahad (3/7/2016) di Rembang.

Menurut Fitri, salah satu pimpinan PT Anamira, selama ini pihaknya terus melakukan koordinasi dan meminta bantuan Konsulat Jenderal Kementerian Luar Negeri di Arab Saudi dan Kementerian Agama untuk segera membebaskan jemaahnya tersebut.

“Tapi, sayang seribu sayang, kami sudah sering mengeluh dan memohon bantuan pemerintah terkait dalam hal ini Konsulat Jenderal Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama. Jawabannya hanya bilang akan dibantu. Akan dibantu. Itu aja,” jelas Fitri. Keterangan ini ia sampaikan pertengahan Mei 2016 lalu.

Faktanya, lanjut Fitri, sampai sekarang setelah divonis, Sarman sama sekali tidak mendapat bantuan hukum. Menurut Fitri peristiwa ini bermula saat Sarman pergi umrah akhir November tahun 2015 lalu.

“Baru sehari di sana, dia tersesat selama dua jam. Kami pun sibuk mencari Pak Sarman, sebab disamping sudah lanjut usia, beliau sering mengalami lupa ingatan. Setelah kami cari ke sana kemari, akhirnya Askar (polisi Arab Saudi) menemukannya sedang bersama dengan seorang pria Yaman di dalam toilet,” terangnya.

Ia kembali menyampaikan, polisi Saudi yang menemukan itu kemudian membawanya ke kantor polisi untuk diinterogasi. Menurut penuturan Fitri, Polisi Saudi menuduh Pak Sarman berbuat asusila dengan orang Yaman, berdasarkan bukti rekaman CCTV saat Pak Sarman di bawa oleh pria Yaman itu ke toilet dan di dalam toilet cukup lama sekitar hampir satu jam.

Selama proses hukum tersebut berjalan, Pak Sarman tidak mendapat bantuan hukum apapun dari Konjen, ini yang kami sesalkan. 

“Sebab, kasus ini janggal, mana mungkin orang serenta itu bisa berbuat begitu. Kami dan keluarga yakin pak Sarman tidak bersalah. Jadi, kami mohon Presiden Jokowi untuk segera memberikan bantuan hukum upaya pembebasan jemaah lanjut usia ini. Tolong kami Pak Presiden….,” tuturnya lagi dengan terbata-bata. (Bisnis Syariah/Fathoni/NU)

Mayoritas netizen mempertanyakan hukum saudi. Apa kesalahan pak sarman sampai divonis hukum cambuk. Apakah ada bukti nyata dan jelas mbah Sarman melakukan perbuatan asusila atau zina.

Bukti tuduhan saudi terhadap Mbah Sarman tidak bisa dijadikan dasar vonis hukuman karena tidak terlihat apa yang dilakukan mbah Sarman.

Tuduhannya berbuat asusila atau zina, sedangkan vonis hukuman zina adalah apabila terlihat jelas benar benar melakukan zina. Itupun harus dengan 4 orang saksi.

Lha kasusnya mbah Sarman ini kan yang terlihat CCTV cuma toilet yang tertutup. Keadaan di dalam tidak terlihat CCTV.

Zalim itu namanya. 

loading...