Busananya sih Tiru Nabi Tapi Akhlak Niru Penentang Rasul


SuaraNetizen.com – Kalau Anda pergi ke Pekalongan dan Jum’atan di Masjid Jami’ Kota Pekalongan, maka akan banyak dijumpai ‘Golkar’ alias Golongan Keturunan Arab. Mereka menempati strata sosial yang tinggi dan beberapa habib terkenal adalah rujukan para Kiai di pekalongan. 

Dulu Habib Ali dan Habib Ahmad adalah penghulu para habaib di Kota Batik. Sekarang ada Habib Luthfi dan Habib Baqir. Golkar di Pekalongan adalah contoh nyaris sempurna dari bentuk adaptasi dan akulturasi budaya. Rata-rata mereka tidak mengenakan jubah dan klimis alias tidak membiarkan jenggotnya tumbuh lebat meskipun karakter fisik mereka memungkinkan itu. 

Mereka ke Masjid pake sarung dan peci atau kupluk. Bahkan Golkar seusia saya banyak atau mungkin mayoritas sudah sama sekali tidak bisa bahasa Arab. 

Saya pernah tes Golkar (Golongan Keturunan Arab) putra pemilik toko sarung terbesar di Pekalongan. Waktu saya beli sarung, saya pakai bahasa Arab. Dia bengong. Terus saya ajak omong pakai bahasa Jawa, ternyata logat Pekalongan-nya jauh lebih kental daripada saya. 

Mereka adalah orang-orang Arab tetapi ‘Njawani.’ Mereka sudah sepenuhnya pribumi kecuali potongan fisiknya.

Ini tentu bertolak belakang dengan trend di sejumlah kota dimana banyak orang pribumi justru berlagak ‘ke-Arab-araban.’ Mereka pake jubah dan memanjangkan jenggot meskipun, mohon maaf, potongan fisik mereka sama sekali tidak mendukung. Kurang elok, tidak sedap dipandang. 

Orang Jogja bilang, ora wangun. Jubah mereka tidak cocok dengan fisik pribumi yang kecil-kecil. Jenggot mereka cuma tumbuh beberapa lembar. Kalau yang pake jubah dan jenggot orang Arab, lebih sedap dipandang karena itu memang budaya mereka. Karakter fisik mereka pun mendukung. Mereka indah dengan budaya mereka. 


Saya sampai saat ini sama sekali tidak berniat meniru-niru budaya Arab dalam busana dan lainnya. Saya sadar maqom. Potongan fisik saya bisa bikin ‘pithik’ ketawa kalau pake jubah dan jenggot. Tubuh saya pendek, jenggot saya juga hanya tumbuh beberapa lembar. Ora wangun blas! 

Sebagai orang Pekalongan, saya senang pakai batik, hatta ke Masjid. Pun saya berpendapat, jubah dan jenggot, kalau pun dianggap sunnah, itu sunnah juz’iyyah, bersifat partikular, mahalli zamani, terikat konteks ruang dan waktu. 

Rasulullah SAW pake jubah karena itu busana orang Arab. Rasulullah SAW memelihara jenggot karena karakter fisik orang Arab ditumbuhi jenggot. Banyak keterangan Rasulullah SAW memelihara jenggotnya dengan baik, tidak terlalu panjang tidak terlalu pendek, dan selalu terlihat rapi. 

Wajah Rasulullah SAW sedap dipandang. Setiap orang yang bertemu dengan Rasulullah SAW selalu terpesona dengan keindahan wajahnya. Wajahnya bercahaya, mukanya ramah dan penuh senyum. Selepas menjadi imam shalat, Rasulullah SAW beringsut menghadap para jama’ah karena sahabat selalu ingin berlama-lama menatap wajah Rasulullah SAW. Rasulullah SAW berikan kesempatan itu setiap kali selesai mengimami salat. 


Belakangan di tempat kita ini banyak orang meniru busana Rasulullah SAW, berupaya keras memelihara jenggot yang tak teratur dan kurang elok dipandang. Beberapa di antara wajah mereka kurang sedap dipandang bahkan ada yang sangar. 

Sorot mata mereka menghardik seolah berkata “Kami ini Ahlussunnah karena mengikuti sunnah Rasul. Sementara kalian ahlil bid’ah”. Model yang begini ini yang memburukkan Islam dan sunnah Rasul. Busananya Rasul tetapi akhlaknya akhlak para penentang Rasul. 

Sumber: Akun Facebook M Kholid Syeirazi

loading...