Ternyata Buya Hamka Pernah Berbaiat Thoriqoh Qodiriyah Naqsabandiyah kepada Abah Anom


SuaraNetizen.com - NU Online tepatnya pada hari Senin, 19 Juni 2009 pukul 16.09 dalam situs http://nu.or.id telah mempublikasikan bahwa, siapa sangka mantan pemimpin Pertubuhan Islam Muhammadiyah Buya Hamka ternyata mengikuti Thoriqoh Qodiriyah Naqsabandiyah dari Pondok Pesantren Suryalaya. 

        

Ketua MUI ( Majlis Ulama Indonesia ) pertama ini berbaiat kepada Abah Anom, mursyid thoriqah dari Pesantren Suryalaya Tasikmalaya lebih kurang pada awal tahun 1981. 

Ketika itu ayahanda al-Faqir, H. Saleh Khan berada di Suryalaya menziarahi Abah Anom dan beliau mengkhabarkan kami bahwa apabila upacara bai’at mengambil tempat, Abah dan Hamka masuk ke ruang pekarangan keluarga dan di tutup pintunya agar tidak di lihat-lihat orang semasa bai’at di jalankan nanti. Ini cara terhormat bagi para ulama mengambil bai’at.

Perkara yang sama ini juga dilaporkan oleh Sri Mulyati, pengajar tasawuf UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, sambil berkata : “Ini penelitian pribadi saya ketika menyelesaikan disertasi, ada fotonya ketika Buya Hamka berbaiat dengan Abah Anom”, ujar Dri Mulyatni. Foto tersebut dapat dilihat disana, Buya Hamka sedang dipakaikan jubah kebesaran sebagai tanda telah berbaiat. 

Ketika Buya HAMKA berkunjungan ke Singapura pada tahun 1981, al-Fakir sempat mendengar ceramahnya di Masjid Muhajirin, masih teringat jelas kata-katanya dan penjelasannya yang menunjukkan beliau sudah berbaiát dengan Abah, ketika dalam ceramahnya beliau berkata : 

“Dalam berzikir kepada Allah ada kaifiatnya kemana di palingkan kepalanya, dari bawah dahulu kemudian ke atas, lalu ke kanan dan kemudian ke kiri. Bukan sembarangan..mengeleng ketika lafaz nafi, meng ‘ia’ ketika lafaz isbat..,. Beliau berkata secara gurauan’- lebih kurang maknanya.

Masih dari pembahasan yang sama, mantan Ketua Umum Fatayat NU yaitu Sri Mulyati menuturkan, Buya Hampa sendiri pernah berujar di Pesantren Suryalaya Tasikmalaya bahwa dirinya bukanlah Hampa, tetapi Hampa. 

Katanya lagi : “Saya tahu sejarahnya, saya tahu tokoh-tokohnya, tetapi saya tidak termasuk di dalamnya, karena itu saya mau masuk’’. Akhirnya ia masuk, karena mungkin haus spiritual. Buya HAMKA berkata: “Diantara makhluk dan kholik itu ada perjalanan yang harus kita tempuh. Inilah yang kita katakan thoriqoh.” Di gambar tersebut terlihat jelas bahwa Abah Anom sedang memberikan sebuah tongkat dan jubah kebesaran untuk Buya Hamka.

Sebab Hamka Masuk ke Thariqah Naqsabandiyah Qadiriyah (TQN)

  
Dalam sebuah situs http://agiskom.blogspot.com/search/label/Kisah%20Inspiratif, disana menyebutkan bahwa sebab Buya Hamka masuk TQN adalah diawali ketika sepulangnya dari Mekkah. 

Kemudian ia datang ke Pondok Persantren Suryalaya (PPS) yang menurut penjelasannya karena mendapat petunjuk Baginda SAW. Agar menjumpai seorang hamba Allah yang ikhlas. Ketika di Suryalaya, didapatinya seorang Mursyid yang sangat bersahaja: tidak berjubah, berserban, dan berjenggot, sebagaimana faham yang umum berkenaan dengan sunnah. Demikian juga para santrinya yang sederhana.

Di situs yang sama juga, ada cerita menarik mengenai pesan Abah Anom kepada Hamka. Percaya atau tidaknya mengenai cerita ini, tergantung pada keimanan dan kepercayaan masing-masing orang. 

Beginilah ceritanya: Setelah selesai bai’at, sampailah masa perpisahan, dan ketika Buya Hamka hendak berpamitan pulang, Pangersa Abah memeluknya dan berkata: “Ucapan jutaan terima kasih atas banyak ilmu yang telah dicurahkan, tetapi Abah mohon agar Buya mau mengatakan kepada Abah, bagaimana mengamalkan semuanya itu. Abah sendiri juga tidak mampu, apatah lagi para santri. Mohon ditunjuki ya Buya“, demikian kurang lebih Pangersa Abah.

Ketika itu juga Buya Hamka tersadar, sehingga dia menangis terisak-isak dan berlutut di hadapan Pangersa Abah. Buya sadar, ilmu yang banyak tidaklah berguna bila tidak diamalkan. Kemudian Buya malah mintu ditunjukkan sebaik-baik amalan, sehingga akhirnya ditalqinkan kalimat yang tertinggi: La ilaha illa Allah.

Lanjutnya, sebelum akhir hayat, Buya Hamka sempat berkunjung secara khusus kepada Pangersa Abah. Maka, seminggu sebelum “masa” itu tiba, Pangersa telah memberikan pesan sebelum Buya pulang ke rumah, yaitu untuk menyelesaikan segara urusan wasiat kepada keluarga, dan kemudian agar memfokuskan pada tawajjuh dengan sepenuh hati, agar baik dan mulia di saat kembali kepada-Nya. Bahkan Pangersa Abah menyatakan, bahwa “masa” itu terjadi setelah sholat Jumat.

Subhanallah. Benar saja. Tepat setelah sholat Jumat, Buya Hamka kembali ke rahmatullah, dengan akhir kalamnya adalah kalimat ikhlas. Terdapat keganjilan, di mana jari telunjuk kanan masih bergerak-gerak (sedang berdzikir khofi), sementara dokter telah mengesahkan kematiannya. 

Ketika dilaporkan kepada Pangersa Abah, Pangersa kemudian memberi pesan yang dibawa seorang wakil. Wakil Pangersa tersebut, setelah sampai di tempat jenazah Buya Hamka, mengatakan: “Sudah sudah, ruhmu sudah kembali, dan jasadmu harus tenang. Jangan mencari adat”. Maka berhentilah jari itu dari mengikuti gerakan dzikir. Sungguh merupakan kematian yang sangat indah. 

Dari sini kita dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga bahwa hubungan antara murid dan guru tak akan terikat kecuali adanya hubungan batin diantara mereka. Orang yang mempunyai banyak ilmu, namun tak diamalkan sama saja dia tak memiliki apa-apa, karena ilmu tanpa diamal ibarat pohon yang tak berbuah. 

Maka benar perkataan al-Ghazali: "Ilmu tanpa amal, gila dan amal tanpa ilmu, sia-sia.” Olehkarenanya, salah satu cara untuk mengamalkan ilmu kita adalah dengan mengikuti thariqat. Sebab ini sebagai bukti pengaplikasian atas ilmu-ilmu yang telah kita miliki, yang mana di dalam thariqat itu senantiasa menekankan kedekatan hubungan antara hamba dengan Tuhannya.

Oleh : Oleh: Abdul Aziz
Mahasiswa Jurusan Tafsir Hadits IAIN Surakarta/Muslimedianews.com 

loading...