5 Rahasia Sang Sufi Muhammad Ali yang Jarang Diketahui Publik


SuaraNetizen.com - Hari ini dunia dikejutkan dengan berita duka, meninggalnya leganda tinju Muhammad Ali akibat komplikasi penyakit Parkinson yang dideritanya.

Sebagai petinju, Ali mulai melejit sebagai petinju besar sejak meraih medali emas Olimpiade pada 1960.

Ia menghipnotis publik tinju dunia setelah meng-KO petinju Sonny Liston untuk mengklaim gelar pada tahun 1964 pada usia 22.

Ia merupakan sosok legendaris, bukan hanya karena kemampuan bertinjunya tapi juga berita-berita tentang eksentrik-nya seorang Muhammad Ali.

Berikut lima hal tentang Muhammad Ali yang jarang diketahui publik, seperti yang dilansir CNN

1. Berganti nama lebih dari sekali

Mungkin Anda hanya tahu bahwa Cassius Clay memilih mengganti nama menjadi Muhammad Ali ketik memeluk Islam di dekade 1960-an.

Padahal sebelumnya, Cassius sempat mengganti namanya menjadi Cassius X sebelum bertemu dengan tokoh politik Islam Amerika Serikat (AS), Elijah Muhammad.

Hal yang mengejutkan adalah nama Muhammad Ali awalnya hendak diberikan Elijah kepada aktivis pergerakan kaum kulit hitam Malcolm X, yang juga memeluk Islam, namun sesaat kemudian tewas dibunuh penentangnya.

2. Seorang sufi

Ada tudingan yang menyebut penggantian nama Cassius ke Muhammad Ali adalah sebagai upaya mengelak dari kewajiban menjalani wajib militer yang berlaku bagi pria warga negara AS kala itu.

Namun, secara mengejutkan Ali justru mengatakan di tahun 2005, bahwa dirinya merupakan seorang sufi.

Ali terpukau dengan sufisme karena aliran ini berprinsip moderat dan universal, seseorang yang menyakiti orang lain, ia turut menyakit kemanusiaan secara luas.

Pandangan ini kemudian yang menjadikan Ali sebagai sosok yang universalis.

3. Menahan luka saat di atas ring

Ketika memutuskan kembali bertanding di atas ring tinju pada 26 Oktober 1970 silam, Ali mendadak mengalami luka pada otot sekitar beberapa hari sebelum hari-H.

Namun, Ali menolak untuk menjadwal ulang pertandingan tersebut, dan bersikukuh kuat menghadapinya.

Tekadnya terbukti. Ia akhirnya berhasil menang atas KO di ronde ketiga melawan juara tinju kelas berat saat itu, Jerry Quarry.

4. Ambil pelajaran dari penyakit parkinson

Ketika terdeteksi menderita gejala penyakit parkinson di usia 42 pada 1984 silam, Ali pun perlahan berubah menjadi sosok yang tidak lagi lantang dalam menyuarakan pendapat.

Secara perlahan, Ali berubah menjadi sosok yang lebih obyektif, terutama terkait dengan kian kuatnya keyakinan dirinya terhadap aliran sufisme.

5. Pesulap amatir

Dalam masa-masa melewati pengobatan penyakit parkinson yang dideritanya, diam-diam Ali mempelajari 'prestidigitasi' atau kemahiran teknik sulap tangan.

Suatu hal yang menyenangkan di balik kelabunya masa-masa mengidap penyakit parkinson.

Sumber: CNN/Tribun/SuaraNetizen.com 

loading...