Kisah Tragis Esthi, Dokter Hewan Yang Diamuk Gajah Hingga Meninggal

  

SuaraNetizen.com - Kepergian Esthi Oktavia Wara Hapsari (25), dokter hewan yang meninggal lantaran diserang gajah di wisata Gajah Mungkur Wonogiri, membuat kaget sejumlah pihak, terutama teman dan kerabatnya.

Akun jejaring sosial Facebook milik gadis cantik tersebut dibanjiri ucapan duka cita.

"Karena nyawa adalah salah satu misteri, maka diambilnya pun semua misteri. Semoga Allah menjadikanmu salah satu bidadari surgaNya. Semoga khusnul khotimah karena engkau pergi dalam pengabdianmu," tulis Endah Dwi Jayanti.

Teman Facebook lainnya mengucapkan hal serupa.

"Inalillahi wa inalillahi rojiiuun. Kami sangat terkejut dan merasa kehilangan bundo. Drh Esthi Octovia Hapsari we aren't just friend but we are family. Masih teringat kemarin kuliah bersama dan banyak kenangan bersama beliau. Mengingatkan qta betapa beresikonya pekerjaan qta as vet. Selalu berhati-hati & safety first," tulis Rajendra Dewa Brata Drh.

Selasa (10/5/2016) pukul 16.26 atau sehari sebelum meninggal, lulusan Universitas Airlangga itu sempat mengunggah foto bersama kekasihnya, seorang prajurit TNI.

Unggahan foto drh Esthi bersama pacarnya, Selasa (10/5/2016).

Dari obrolan di facebook itu, Esthi diperkirakan bakal segera menikah.

"Kpan vi..tk tggu undangane hehe..iku nda mas hengki vi," tulis Hasna Zulfana Labibah mengomentari unggahan foto Esthi.

Kronologi Tewasnya Esthi

Kejadian bermula Rabu (11/5/2016), sekitar pukul 07.00 WIB saat dua gajah dibawa ke lapangan untuk latihan adaptasi dengan pawang masing-masing.

Gajah Panamsari (betina) didampingi Febri, sang pawang dan Gajah Panamtu (jantan) didampingi pawang Umar dan Arif.

Saat korban bermaksud memfoto gajah jantan di depannya, tiba-tiba gajah itu menyeruduk korban dan mengenai tubuhnya.

Korban langsung tersungkur.

Karena goncangan gajah, pawang Arif yang menaiki gajah juga terjatuh.

Setelah korban jatuh, korban sempat ditolong dua orang pedagang.

Setelah ditolong, korban bermaksud mengambil ponselnya yang terjatuh, namun gajah jantan tersebut masih berusaha menyeruduk,

Pawang kemudian memberi aba-aba agar korban berlari.

Ketika diajak lari, korban terpeleset.

Gajah kemudian mengambil ancang-ancang mundur untuk menyerang.

Gajah menyerang korban dan mengenai tubuh, korban kemudian tersungkur.

Pawang kemudian mengiring ke dua gajah ke kandang.

Korban kemudian diberi pertolongan oleh pedagang dan pegawai wisata untuk dibawa ke RSUD, namun nyawanya tidak tertolong lagi.

Kapolres Wonogiri, AKBP Windro Panggabean membenarkan peristiwa tersebut.

"Benar," ujarnya dalam pesan singkat yang diterima TribunSolo.com, Rabu (11/5/2016) saat dikonfirmasi tewasnya dokter muda lantaran terinjak gajah.

Luka Kepala Berat

Korban meninggal akibat amukan gajah, drh Esthi Oktavia Wara Hapsari (25), ternyata sudah meninggal terlebih dahulu saat tiba di rumah sakit dengan cedera serius.

Hal tersebut disampaikan oleh dokter IGD RSUD dr Soediran Mangun Sumarso, Wonogiri, dr Aris Santosa.

"Tiba di IGD sekitar pukul 08.00 WIB, sudah meninggal, jadi tinggal autopsi saja," kata Aris kepada TribunSolo.com, Rabu (11/5/2016) siang.

dr Aris Santosa menangani langsung proses autopsi jenazah Esthi bersama dr Sartono dan dua orang perawat.

Dari hasil autopsi, Aris menjelaskan, jenazah Esthi mengalami cedera kepala berat, dada lebam, perut robek.

"Luka kepala berat, jaringan otak ada yang keluar dari robekan kepala bagian belakang," ungkapnya.

Selain itu Aris menambahkan, banyak darah keluar dari hidung, telinga, dan mulut.

"Dicurigai, jenazah (Esthi) mengalami benturan benda tumpul yang hebat," ujar Aris.

Harus Ada Sinergi

Kematian dokter hewan muda akibat diserang gajah tentu saja menimbulkan kewaspadaan kembali terhadap penanganan satwa liar di lembaga konservasi.

Setiap hewan memiliki karakter yang dipahami oleh keeper atau pawang masing-masing, dan dokter hewan sebaiknya bersinergi dengan pawang dalam melakukan setiap tindakan kepada satwa liar di lembaga konservasi tersebut.

“Penanganan satwa liar itu memang harus melibatkan dengan pawang masing-masing hewan yang mengerti karakter si satwa, kita dokter hewan pun harus didampingi pawang dalam melakukan setiap tindakan,“ jelas dokter hewan Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), dr Siti Nuraini.

Siti Nuraini menambahkan, dokter itu hanya mengerti soal keadaan medis.

Sedangkan untuk kebiasaaan hewan yang mengerti pawang masing-masing.

Hindari Bahaya

Termasuk bagaimana menanganinya jika terjadi bahaya.

Senada, menurut mahout senior Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ), Syamsi menuturkan perilaku gajah sering tidak bisa diprediksi dan sering kali bertindak diluar dugaaan.

"Gajah, terutama jantan kalau masuk masa berahi memang menjadi galak, dan bahayanya masa-masa tersebut tidak dapat diketahui tanda-tandanya. " ujar mahout senior TSTJ, Syamsi kepada TribunSolo.com, Rabu (11/5/2016).

"Tahu-tahu menyerang gitu aja, " tambahnya.

Dan yang lebih berbahaya lagi, lanjut Syamsi, gajah biasanya ketika menyerang gajah tidak akan berhenti sebelum puas.

Satu-satunya jalan untuk menghindari gajah ketika bertindak liar adalah lari menghindarinya.

"Mengalihkan perhatian itu juga susah, jalan paling aman ya lari, " tutup Syamsi.

Mamalia Pembunuh Manusia Terbanyak

Gajah, mamalia yang tampaknya jinak ternyata memiliki kemampuan untuk membunuh manusia.

“Gajah itu hewan yang membunuh manusia paling banyak, bukan ular bukan macan,” ujar dokter hewan dari Veterinary Society for Sumatran Wildlife Conservation (VESSWIC), dr Anhar.

Konflik manusia vs gajah biasanya karena habitat gajah terdesak oleh pembukaan lahan.

Selain karena badannya yang super jumbo, kekuatan hempasan ekornya saja bisa membuat manusia pingsan.

"Belum lagi kalau menginjak-injak manusia, ya pasti manusianya kalah," imbuhnya.

Jangan pernah menyepelekan gajah, walaupun tampak jinak dan lamban, tapi manusia juga harus menghormatinya, pesan dr Anhar kepada para manhout (pawang gajah) di Pelatihan Manajemen Gajah di Lembaga Konservasi.

Pelatihan manajemen gajah bertujuan untuk memberi pengetahuan dan keterampilan bagi para manhout di lembaga konsevasi. © Tribunnews

loading...