Ini Cangkul yang Menancap dikelamin Eno, Panjang Gagang 65 cm, Masuk sedalam 30 cm


SuaraNetizen.com, JAKARTA - Laman Facebook milik Divisi Humas Polri merilis foto penampakan cangkul yang menewaskan Eno Parihah (18), buruh pabrik plastik, di messnya di Jatimulya, Kosambi, Dadap, Kabupaten Tangerang, Banten.

Seperti dilansir dari laman jejaring sosial Facebook tersebut, Selasa (17/5/2016), cangkul dengan ukuran gagang sepanjang 65 sentimeter itu ditemukan menancap di alat kelamin korban sedalam kira kira 30 cm. 

Cangkul itu ditancapkan pelaku ketika Enno masih dalam keadaan hidup hingga akhirnya enno meninggal.

Gadis asal Serang, Banten itu tewas akibat kekerasan cangkul.

Kini, cangkul tersebut sudah berada di laboratorium forensik untuk diperiksa.

Selain cangkul, barang bukti lainnya seperti kasur di kamar korban dan pakaian korban, juga dibawa ke Laboratorium Forensik untuk dilakukan swipe darah.

Eno ditemukan tewas pada Jumat (13/5) sekitar pukul 08.45 WIB.


Korban ditemukan oleh 2 teman kamarnya, Eroh dan Tikroh yang juga satu kampung dengan korban di Serang, Banten.

Saat itu, keduanya baru saja pulang sehabis bekerja shift malam di sebuah pabrik di kawasan Dadap, Tangerang.

Keduanya mendapati pintu kamar dalam keadaan tergembok dari luar.

Kedua saksi kemudian meminta temannya, Yaya untuk membuka dengan menggunakan kunci cadangan.

Namun rupanya, tidak ada yang cocok dengan kunci yang dimiliki pihak pabrik.

Dengan disaksikan Eroh dan Tikroh, Yaya kemudian mendobrak pintu kamar tersebut.

Setelah terbuka, kedua teman wanita korban menjerit histeris setelah mendapati Eno dalam keadaan sudah tidak bernyawa, terlentang di atas kasur berlumuran darah.

Para karyawati pabrik itu lantas menghubungi pihak HRD pabrik yang selanjutnya diteruskan dengan melapor ke Polsek Teluknaga.

Polisi melakukan olah TKP dan mengambil keterangan para saksi saat itu juga.

Setelah dilakukan penyelidikan, tim gabungan dari Direktorat Reskrimum Polda Metro Jaya yang dipimpin AKBP Eko Hadi Santoso, dan Kanit V Resmob Kompol Handik Zusen, Kanit IV Resmob Kompol Teuku Arsya Khadafi dan Kanit III Subdit Jatanras Polda Metro Kompol Awaludin Amin serta Polsek Teluknaga dan Polres Tangerang Kota, pelaku berhasil terungkap.

Saat ini polisi sudah mengamankan 3 orang, yang salah satunya berinisial A yang diduga kuat sebagai pelakunya.

Dugaan kuat mengarah kepada A lantaran ia kedapatan memiliki handphone korban.

Tiga tersangka

Aparat kepolisian telah menetapkan tiga orang sebagai tersangka kasus pembunuhan Enno Parihah alias EF (18).

Para tersangka diduga membunuh EF karena permasalahan asmara.

Ketiga tersangka adalah RA (15), R (20), dan IP (24). Mereka mengenal EF.

Sampai saat ini, mereka masih dimintai keterangan secara intensif di Mapolda Metro Jaya.

"Dari penuturan tersangka, ini motif asmara," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Awi Setiyono, kepada wartawan, Senin (16/5/2016).

Menurut pengakuan para tersangka, mereka bekerjasama saat membunuh EF. Mereka mengenal saling mengenal dengan korban.

"Yang bersangkutan dengan almarhum saling kenal," kata dia.

Awi menambahkan, pelaku berusia lebih muda daripada korban.

Status pelaku itu masih pelajar SMP.


Ibunda penasaran lihat wajah pelaku

Pada waktu yang sama, aparat kepolisian turut membawa Mahfudoh, ibu kandung Enno, dan Dita, kakak kandung Enno.

Mereka dijemput aparat kepolisian di kediaman Kampung Bangkir RT/RW 12/003, Desa Pengandikan, Lebakwangi, Kabupaten Serang pada hari Minggu sekitar pukul 04.00 WIB.

Aparat kepolisian tak menjelaskan kepada mereka tujuan membawa ke Mapolda Metro Jaya. Mereka pun belum menerima informasi pelaku pembunuhan Enno telah tertangkap.

Pihak keluarga merasa penasaran seperti apa wajah pelaku yang telah tega membunuh.

"Tadi ditelepon, lalu, dijemput. Saya tanya ada apa? Coba ke sini saja. Tadi dibawa pukul 04.00 WIB. Katanya pelaku sudah tertangkap ya. Sini coba lihat wajah pelaku. Saya penasaran seperti apa wajah orangnya," ujar Mahfudoh kepada wartawan.

Mahfudoh terakhir kali bertemu dengan Enno saat sang buah hati pulang ke kampung halaman di Pengandikan, Serang, Jumat (6/5/2016).

Fikri, ayah Enno mengantar anaknya pulang dari tempat kos di Dadap, Kabupaten Tangerang. Di kesempatan itu, Enno bercerita sempat bertengkar dengan seorang wanita.

Dia mengaku pertengkaran itu terjadi di pabrik tempat Enno bekerja di PT Polyta Global Mandiri. Eno mengatakan kepada orang tuanya, dia sedang tertawa saat perempuan itu lewat dihadapannya. Mahfudoh menduga perempuan itu tersinggung kepada anaknya.

"Dia pulang terakhir pas Jumat yang ada libur panjang. Pada Jumat minggu ini meninggal. Dia cerita habis berantem dengan perempuan. Dia cerita, tetapi tak bilang alasan apa. Enno diancam. Enno diseret keluar," kata dia.

Lalu, Enno sempat mengatakan kepada ibunya.

"Kasar tidak dapat halus dikerjain," kenangnya tanpa mengerti apa maksud ucapan anaknya.

Mahfudoh mempunyai firasat akan kehilangan anak keempat dari tujuh bersaudara itu.

Firasat berupa mendengar suara burung hantu di sekitar tempat tinggal dan tingkah laku berbeda dari Enno.

Sebelum pulang untuk terakhir kali, Enno sempat menelepon ibunya.

Dia mengatakan ingin membawa sesuatu untuk orang rumah. © Tribunnews

loading...