Cara Jokowi Membunuh HTI dengan Hantu Kambing Bernama PKI


SuaraNetizen.com - Saya sempat bertanya-tanya kok akhir-akhir ini marak pemberitaan soal PKI ya, padahal PKI kan udah lama mati? Kok tiba-tiba muncul lagi? 

Salah satu contohnya, kasus bocah yang kedapatan pake kaos berlogo palu arit tersebut di Jakarta kemarin.

 

Ilustrasi

Ada apa ini? Apa PKI sudah hidup kembali setelah mati beberapa dekade? Kenapa pemerintah diam saja? 

Hmmmm... Untuk menjelaskan hal ini sepertinya saya langsung berkiblat kepada analisis Bang Denny Siregar, melalui akun facebooknya, beliau menulis, kalau pemerintah nggak sebodoh itu, diam saja tanpa ada tindakan. Pemerintah sengaja membuat sekenario untuk menghajar ormas yang menolak ideologi Pancasila, makanya pemberitaan PKI dibangkitkan kembali...Wow!!!

Lho kenapa harus PKI? Apa hubungannya? 

Mari kita bedah sebentar saja.. silahkan diminum kopinya.

Salah satu kesulitan pemerintah dalam memberantas ormas-ormas berpaham radikal itu karena kebanyakan mereka mengatas namakan agama, iya agama. Agama dijadikan benteng kuat ketika mereka "dihajar" langsung oleh pemerintah.

  

ilustrasi

Contohnya? Kayak kisruh berkepanjangan di Mesir kemarin, masalahnya ya sepele doang, pemerintah pengen bersih-bersih ormas radikal, tapi akhirnya kisruh soalnya pemerintah Mesir dituduh melanggar Agama dan HAM.

Kalau di Indonesia?

Kalau semisal tindakan preventif ini diterapin di Indonesia, jelas bahaya buat kesetabilan negara, apalagi sekarang Indonesia lagi santer-santernya mengundang Investor asing buat berpesta di negara ini. Jelas kisruh karena masalah begituan bukan cara Jokowi. 

Lalu gimana cara terbaiknya?

Caranya adalah dengan mencari pembanding alias penyeimbang gerakan ormas-ormas radikal tersebut dengan paham yang sudah lama mati. Siapa? Ya PKI.

  

ilustrasi

Dibangkitkanlah setan dalam kubur bernama PKI sebagai penyeimbang, dengan begitu pemerintah tidak selalu menyasar "AGAMA" tetapi juga komunis...

Benar saja, tidak lama sesudah setan itu dibangkitkan kembali, Mendagri langsung merespon bahwa ormas yang tidak berideologi Pancasila, harus dibubarkan.

Waduhhh... Mendengar keputusan ini ormas-ormas radikal bingung deh, muter otak gimana caranya terhindar dari pembubaran ini, mereka seakan tumpul, nggak bisa lagi nyerang pemerintah dengan membawa nama "AGAMA", toh pemerintah juga menghajar komunis. Lalu apa yang harus diteriakkan?

Sia-sia...

Ormas-ormas radikal ini sudah dipucuk jurang dan tak bisa bergerak lagi. Banser pun maju dan menghalangi gerak langkah mereka dengan mencabuti spanduk KHILAFAH, sekaligus menantang siapa yg ingin menjadikan negara ini khilafah maka akan berhadapan langsung dengam banser NU.

Maka yang ada mereka mau tidak mau mengibarkan sempak pink sebagai tanda menyerah dan harus membubarkam diri atau harus mengakui Pancasila sebagai ideologi negara dan hormat bendera.

Menarik kan ?

Pasti menarik, ketika ideologi dilawan dengan ideologi lagi bukan dengan kekerasan fisik. Inilah cara Indonesia melawan radikalisme berbalut paham radikalisme di negeri ini, halus tapi mematikan.

Benar kata Ahok..
Jokowi ini kalau membunuh katak tidak langsung menembaknya. Tetapi menaruhnya dulu di panci berisi air dingin supaya dia nyaman, kemudian nyalakan api kecil di bawah panci dan tunggu saja sampai dia tidak sadar sudah terjebak dan mati tanpa menyadari dimana letak salah langkahnya sehingga harus skak mat.


Silahkan di sruput lagi kopinya....

loading...