Pengakuan Mantan Bintang Video Pemenggalan ISIS, Mereka Negara Islam Palsu

  
Harry Sarfo, pembelot yang muncul dalam beberapa video pemenggalan kelompok ISIS. | (Instagram)

SuaraNetizen.com, BERLIN - Pembelot kelompok Islamic State (ISIS), Harry Sarfo, warga Jerman, memberikan kesaksikan mengapa dia memilih hengkang dari kelompok itu. Sarfo adalah salah satu mantan militan ISIS yang kerap muncul di video pemenggalan sandera sebagai bahan propaganda.

Sarfo semula adalah seorang tukang pos. Di kemudian bergabung dengan ISIS di Suriah pada bulan April tahun lalu dan diminta menjdi"bintang" dalam video eksekusi sandera untuk menyebarkan ketakutan bagi penduduk di seluruh dunia.

Sarfo meninggalkan kelompok ISIS tak lama setelah dia menyaksikan hal-hal yang menurutnya terlalu brutal untuk diabaikan. Dia ditangkap setelah memasuki Eropa dan sedang menunggu sidang atas tuduhan teror di penjara Jerman.

Dalam sebuah wawancara dengan The Independent, dia berbicara tentang hal-hal terburuk yang dia lihat dan bagaimana perasaannya tentang kelompok teror itu.

”Saya menyaksikan pelemparan batu, pemenggalan, penembakan, tangan dipotong dan banyak hal lainnya,” kata Sarfo.

”Saya telah melihat tentara anak laki-laki berusia 13 tahun dengan sabuk peledak dan Kalashnikov.Beberapa anak laki-laki bahkan mengemudi mobil dan terlibat dalam eksekusi,” lanjut dia.

”Saya memiliki (kenangan) terburuk dari eksekusi enam orang yang ditembak di kepala (dan) yang memotong tangan seorang pria,” ujarnya.

Dia mengaku menjadi tahu segalanya tentang ISIS. Dia mengatakan singkatan pada kelompok Islamic State yang artinya Negara Islam adalah palsu.

Islamic State bukan Islam. (Kelompok) itu tidak manusiawi. Seorang yang masih berhubungan darah membunuh saudaranya sendiri karena dicurigai sebagai mata-mata. Mereka memberinya perintah untuk membunuhnya. Hal ini, teman membunuh teman,” katanya.

Sarfo pindah dari Jerman ke London ketika remaja.Dia pernah belajar di tiga sekolah dan masuk Islam saat berusia 20 tahun.
Dia dipaksa untuk kembali ke Jerman untukdijebloskan ke penjara atas tuduhan perampokan, setelah dia mengaku dekat dengan perekrut“jihadis” yang terkait dengan Al-Qaeda.

Sarfo, yang menghabiskan sebagian besar masa depannya di balik jeruji besi, memberikanperingatan bagi koalisi yang memerangi ISIS di Irak dan Suriah. Dia mengatakan pengeboman terhadap ISIS hanya mendorong lebih banyak orang untuk bergabung dalam perang melawan Barat.

”Kampanye pengeboman memberi mereka lebih banyak rekrutan, lebih banyak orang dan anak-anak yang akan bersedia untuk mengorbankanhidup mereka karena mereka telah kehilangan keluarga mereka dalam pengeboman itu,” katanya.

”Untuk setiap bom, akan ada seseorang yang akanmembawa teror ke Barat. Mereka tahu Barat takut untuk menempatkan sepatu (pasukan darat) di tanah (Irak dan Suriah). Bahkan jika itu terjadi suatu hari, mereka punya banyak orang yangmenunggu pasukan Barat tiba. Bagi mereka janji surga adalah semua yang mereka inginkan,” ujarnya. © Sindonews
loading...