Mantan Sandera Ungkap Kelicikan Abu Sayyaf, Sudah Dibayar Minta Lebih atau Tetap Dibunuh

  

Gracia Burnham (dua dari kiri) sandera Abu Sayyaf asal AS yang selamat. | (cbsnews)

SuaraNetizen.com, WASHINGTON - Gracia Burnham, seorang wanita Amerika Serikat (AS) yang pernah ditawan kelompok Abu Sayyaf mengungkap kelicikan kelompok penculik itu.
 
Sandera yang selamat ini menilai operasi militer adalah opsi terbaik, karena Abu Sayyaf tak bisa dipercaya termasuk dalam hal uang tebusan.
 
Gracia percaya, sandera asal Kanada; John Ridsdel, yang dieksekusi penggal oleh Abu Sayyaf di Filipina selatan sebenarnya sudah diupayakan untuk ditebus. Bukan oleh Pemerintah Kanada, tapi oleh pihak keluarga dan rekannya.
 
”Jika (kanada) telah tahu apa yang mereka lakukan di medan perang, mungkin ide yang baik adalah bergerak untuk mendapatkan pria (yang disandera) keluar dari sana,” kata Gracia Burnham, seorang misionaris AS yang disandera Abu Sayyaf lebih dari satu tahun.

Gracia dan suaminya Martin Burnham merayakan ulang tahun pernikahan mereka ke-18 di sebuah resor pulau di Palawan, Filipina, pada tahun 2001. Saat itulah mereka diculik bersama dengan dua orang lainnya.

Gracia mengatakan mereka mengelilingi hutan, menderita disentri akibat terkontaminasi air sungai yang kotor. Dia mengaku bertanya-tanya apakah dia dan suaminya saat itu akan melihat keluarga mereka lagi atau tidak. 

Wanita ini harap-harap cemas, terutama saat mendengar kabar uang tebusan dibayar. "Kami sangat senang ketika seseorang membayar uang tebusan bagi kami,” katanya dalam wawancaranya dengan CTV News, Kamis (28/4/2016).
 
Meski ditebus, kata dia, opsi tidak bekerja. Abu Sayyaf ternyata menuntut lebih.

Gracia melanjutkan, awalnya, para penculikmembawa pergi sandera Peru-Amerika; Guillermo Sobero dan membunuhnya. Dia dan suaminyadiberitahu kelompok Abu Sayyaf bahwa Sobero “dibebaskan tanpa kepala”.

Menurut Gracia, saat itu militer Filipina telahmemasang alat pelacak ke salah satu militansehingga diketahui jumlah kelompok itu sekitar 80orang.
 
Dengan data itu, tentara Filipina menyerbu kawasan gunung dan terjadi kontak senjata.”Suami saya dan saya segera ditembak—saya (ditembak)di kaki, dia (suami) dada,” kenang Gracia. “Luka di kaki sembuh, luka di dada tidak,” ujarnya, yang menambahkan bahwa suaminya meninggal dengan cepat.

Gracia mengatakan, dia tidak tahu siapa yangmelakukan tembakan fatal. “Tetapi banyak tentara kehilangan nyawa, mereka mencoba menyelamatkan kami, jadi saya tidak akan menyalahkan militer untuk apa pun yang terjadi,” katanya.
 
“Apa yang kami inginkan adalah Angkatan Bersenjata Amerika, agen khusus, agar datang dengan kacamata night vision dan hanyamembawa kami keluar dari sana,” lanjut Gracia.
 
”Beberapa (pasukan) Navy Seals agar ditempatkan dengan baik, dan bisa membuat kami keluar," katanya mengharapkan misi militer AS. "Tapi itu tidak akan bekerja secara politis. Karena demi kedaulatan, Filipina tidak akan membiarkan orang Amerika berjuang di tanah mereka.”

Ahli militer juga setuju dengan misi penyelamatan tentara Kanada, namun hal itu tidak mungkindengan alasan seperti yang disampaikan Gracia.
 
”Saya tidak berpikir ada sesuatu yang Anda dapat lakukan selain membantu polisi dan pasukan dari negara berdaulat yang terlibat,” kata pensiunan Brigadir Jenderal James Cox kepada The Canadian Press awal pekan ini.

Ahli keamanan Larry Busch menambahkan, tidak mungkin pasukan Kanada dikerahkan di Filipina dengan alasan melanggar kedaulatan Manila. Namun, menurutnya, militer Kanada bisamembantu untuk merencanakan operasi militer yang dikerjakan tentara Filipina.
 
”Saya pikir Pemerintah Filipina cukup mampu membawa (masalah) ini keluar,” ujar Busch. © Sindonews

loading...