Langka, Tiga Kali Dinyatakan Sudah Mati Pria Ini Hidup Lagi

SuaraNetizen.com, CIREBON – Kisah tentang Mukhlas (64) warga Blok Desa, di Desa Barepan di Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon ini sungguh sangat langka. Pria sepuh yang sudah dalam kondisi lumpuh itu sempat tiga kali dinyatakan mati.

  

Mukhlas sudah jatuh sakit sejak 22 Februari lalu. Ia tak bisa berbicara lagi. Kelumpuhan juga membuatnya hanya berbaring di tempat tidur.

Kabar tentang Mukhlas yang tiga kali dinyatakan mati itu mulanya beredar di Facebook. Radar Cirebon (Jawa Pos Group) lantas menelusuri informasi itu untuk membuktikannya.

Ternyata memang benar adanya. Pada hari Jumat (25/3) lalu pukul 03.00, Mukhlas dinyatakan meninggal dunia.

Pihak keluarga pun menangisi kematiannya. Rencananya pemakaman pun sudah dibahas. Doa-doa dan surat-surat dalam Alquran pun dilantunkan.

Tapi 2,5 jam setelah Mukhlas dinyatakan meninggal, ternyata ia bernafas lagi. Keluarganya pun terkejut bukan kepalang. Tetangga pun ikut lega.

Tapi pada hari yang sama pada pukul 22.00, Mukhlas berhenti bernafas lagi. Keluarganya lagi-lagi menangis. Tapi masih ada rasa curiga jangan-jangan Mukhlas hidup lagi.

Kecurigaan itu ternyata tak meleset. Empat jam setelah Mukhlas dinyatakan tidak bernafas, pada pukul 02.00 tanggal 26 Maret, ia bernafas lagi.

Namun hanya beberapa menit setelah bernafas, Mukhlas dinyatakan mati lagi.  Kali ini tidak ada tangisan lagi. Yang muncul justru rasa penasaran.

Ajaib. pada pukul 05.00, Mukhlas ternyata hidup lagi.  Wartawanradarcirebon.com pun melihat langsung Mukhlas di rumah adik iparnya, Sabtu (2/4).

Istri Mukhlas, Sri Sumarti menuturkan, suaminya memang sampai tiga kali dinyatakan mati. Sembari menangis Sumarti mengaku kaget dengan peristiwa yang dialami suamina.

“Perasaan kami tidak keruan. Tapi juga sedih dengan penyakit yang dialami suami saya,” katanya.

Sumarti mengatakan, suaminya sudah empat kali berobat ke dokter. Bahkan Sumarti ingin suaminya dirawat di rumah sakit saja.

Anehnya, justru Mukhlas yang menolak dirawat. Alasannya karena takut disuntik. “Sekarang kami menumpang di rumah adik saya, karena kami tidak punya rumah,” kata Sri dengan wajah memelas.(radarcirebon/jpg/ara/JPNN)

loading...