Cerita Tentara Elit Malaysia Kagumi Kopassus, Rela Tukar Jam Mahal Demi Pisau Komando

    

SuaraNetizen.com - Hari ini, Komando Pasukan Khusus (Kopassus) merayakan ulang tahunnya ke-64 tahun. Sejak dibentuk, pasukan elite TNI Angkatan Darat ini telah menjalani pelbagai pertempuran, mulai dari menghadapi gerilyawan DI/TII sampai operasi pembebasan sandera.

Operasi militer Dwikora ke pedalaman Kalimantan menjadi salah satu misi berat yang dijalankan Kopassus. Berkali-kali, prajurit komando itu beberapa kali terlibat bentrok dengan pasukan elite Inggris, Special Air Service atau disingkat SAS.

Meski terlibat pertempuran, namun tak pernah ada pernyataan perang antara Indonesia dan Malaysia. Personel yang tertangkap, atau terbunuh tak diakui keberadaannya. Seragam dan pangkat militer wajib dilepas, seragam diganti dengan seragam hijau Tentara Nasional Kalimantan Utara (TNKU). Dengan demikian, jejak keterlibatan Indonesia terhapus.
  

operasi klaret 2014 Merdeka.com/se-asia.commemoration.gov.au
Operasi-operasi yang dilakukan Kopassus bersama Komando Pasukan Gerak Tjepat (Kopasgat) berkali-kali merepotkan Malaysia, hingga akhirnya meminta bantuan Inggris. Permintaan itu disetujui, negeri Ratu Elizabeth itu langsung menerjunkan satu batalyon SAS.

SAS merupakan pasukan elite terbaik dunia. Prestasinya sungguh tersohor. Selain SAS, Inggris juga mengirim pasukan Gurkha dan SAS tambahan dari Selandia baru dan Malaysia.

Rupanya, bentrok antara kedua pasukan elite tersebut sampai ke telinga prajurit Malaysia. Mereka kagum dengan kiprah Kopassus yang berkali-kali merepotkan SAS. Utamanya pasukan elite mereka, Resimen Ranger Kerajaan.
Letjen (Purn) Soegito mengungkapkan kekaguman itu dalam bukunya 'Bakti Seorang Prajurit Stoottroepen', yang ditulis Beny Adrian, cetakan pertama tahun 2015 yang diterbitkan PT Gramedia.
  

SAS di Kalimantan 2016 istimewa

Setelah konfrontasi berakhir, tentara Indonesia dan Malaysia bergabung. Kedua negara berkomitmen menghabisi gerilyawan TKI yang pembangkang karena enggan menyerahkan senjatanya. TNI harus menghadapi muridnya sendiri, hingga menggelar patroli bersama menjaga perbatasan.

Anggota Ranger Malaysia mengaku senang bisa berpatroli bersama dengan Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD/cikal bakal Kopassus). Kiprah Kopassus melawan SAS membuat mereka ingin lebih dekat.

"Kesempatan langka kebersamaan itulah yang mereka manfaatkan untuk mengenal lebih dekat dengan RPKAD," ungkap Soegito dalam bukunya.
Saking kagumnya, Ranger Malaysia sampai rela menukarkan jam tangan mahalnya demi mendapatkan pisau komando RPKAD. © merdeka
loading...