Kunjungi PBNU, Ulama Besar Sunni Suriah Jelaskan Soal Fakta di Suriah

SuaraNetizen.com ~ Di sela-sela kesibukan mengisi seminar di beberapa kota di Indonesia, Syekh Muhammad Taufiq Ramadlan Al-Buthi mengunjungi Rais ‘Aam PBNU KH Ma’ruf Amin di Lantai 4 Gedung PBNU pada Kamis (10/3). Maksud kedatangan Ketua Persatuan Ulama Suriah ini adalah untuk menguatkan hubungan akademis antara ulama Suriah dan Indonesia.


Senyum terkembang di bibirnya saat bertemu dengan Kiai Ma’ruf Amin. Putra Said Ramadlan Al-Buthi merasa senang bisa berkunjung ke kantor PBNU. Syekh Taufiq menyampaikan beberapa hal kepada Kiai Ma’ruf terkait dengan situasi dan kondisi yang ada di Suriah.

“Suriah juga seperti Indonesia yakni terdiri dari beberapa suku, agama, dan bahasa. Selama ini Suriah aman-aman saja dan tidak ada konflik, namun setelah ada campur tangan dari pihak (lain) maka terjadi konflik yang tak berkesudahan,” jelas Al-Buthi.

“Di Suriah yang terjadi bukanlah perang saudara atau perang dalam negeri, namun itu adalah campur tangan asing. Ada sekitar 350 ribu lebih orang dari 80 negara yang ikut terlibat konflik di Suriah,” lanjut laki-laki yang menjabat Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus tersebut.

Selain menyampaikan kondisi Suriah, Syekh Taufiq juga menawarkan kerja sama dengan PBNU yakni dalam bentuk pertukaran pelajar kepada para pelajar Nahdliyin.

Setelah mendengar pemaparan Al-Buthi, Kiai Ma’ruf juga mengaku senang atas kunjungannya. Rais Aam PBNU berharap pertemuan ini merupakan gerbang awal untuk menjalin kerja sama ke depan. “Semoga ini menjadi awal yang baik antara Suriah dan NU,” harap Kiai Ma’ruf.

Kedatangan Taufiq Al-Buthi ke Indonesia diprakarsai oleh Ikatan Alumni Syam Indonesia (Al-Syami) yang menggelar Silaturrahim Nasional (Silatnas).

Sekretaris Jenderal Al-Syami M Najih Arromadloni mengatakan bahwa selain menawarkan kerja sama pertukaran pelajar, kedatangan Syekh Taufiq ke PBNU adalah untuk memperkuat hubungan ulama Suriah dan Indonesia khususnya PBNU. 

“(Kedatangannya) yang utama adalah untuk menguatkan hubungan akademis dan ulama Suriah dan Indonesia dalam menanggulangi krisis politik dan ideologi yang terjadi di Timur Tengah,” pungkas Najih. (II/TF/NU Online)

loading...