Astaghfirullah, Putri Saudi Lecehkan Lafal Syahadat Fans Saudi Diam

Astaghfirullah, Putri Saudi Lecehkan Lafal Syahadat 

Ketika sajadah jadi alas duduk penari Saman, kau diam.... 

Ketika sajadah jadi alas penari Pendet, kau teriak "Ini penistaan agama" 

Ketika sajadah jadi alas kendurian, dengan segala tumpahan nasi, minyak dan percikan sambal, kau diam..... 

Ketika pedagang terompet, orang kecil, menjual terompet yang dibuat dari sampul mushaf Quran, kau teriak "Ini penistaan agama...." 

Tapi ketika terbongkar, sampul Quran itu sisa percetakan, milik pembesar negri, dari golongan nyinyir , yang bersebrangan dengan pemerintah, yang di "kiloin" pemilik percetakan demi mengejar beberapa ribu rupiah saja, kau diam..... 

Oooh.... memang
Saat ajaran nabi mulia Muhammad hanya dipahami di kulitnya, ego dan nafsu menjadi Wali mu...... 

Buat para kaum sumbu pendek....
Silakan komentari putri Saudi ini, dengan tulisan kalimat syahadat di baju SXXYnya 

 
Kalimat syahadat yang merupakan pokok ajaran islam sangat tidak layak bila lafalnya di tempelkan di pakaian yang mengumbar aurat. 

 
Heran ya, kok para pemuja saudi nggak protes mencak mencak pemerintah saudi padahal itu putri saudi yang direstui pemerintah. 

Coba kalau yang memakai pakaian kayak gitu putri Indonesia, saya yakin mereka 'para pemuja saudi' akan langsung koar koar kayak gini : 

'INI PENISTAAN AGAMA...!!!
MANA NIH PEMERINTAH...!!!!
DASAR PEMERINTAH LIBERAL... PKI... KODOKKK... ZIONIS... SYIAH...KAFIRRR...!!!!
Dan Cacian cacian lain Khas anak anak salafi wahabi. 

 
Coba kalau yang seperti ini terjadi di Indonesia, pasti pemerintah yang bakal di caci maki para kaum cingkrang. Tapi karena ini terjadi di saudi ya mereka nggak akan mencaci saudi. 

 
Coba kalau bola lafal syahadat digunakan di kompetisi sepak bola indonesia. Pasti pemerintah Indonesia yang dijadikan sasaran cacian mereka. Tapi kalau bolanya punya saudi mereka diam adem ayem. 

 
Coba kalau jokowi yg megang megang anjing kayak gitu, nggak terbayang gimana hebohnya cacian kaum sawah, tapi kalau raja dan pangeran saudi yg melakukannya...hmmm...kaum salafi diam, adem ayem. 

KONTROVERSI KARPET SAJADAH
Belum lama ini kita saksikan peristiwa dilangsungkannya tarian di atas sajadah pada acara Hari Amal Bahkti Kemenag ke-70 di Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Minggu (3/1) lalu menuai beragam tanggapan. Banyak netizen, menyayangkan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengecam dengan nada provokatif. 

Mendapati reaksi itu, Menteri Agama melalui surat resmi menyampaikan permohonan maafnya. Kanwil Kementerian agama DKI Jakarta sebagai penyelenggara juga telah meminta maaf sembari menjelaskan duduk permasalahan yang terjadi di lokasi penyenggaraan HAB Ke-70 tersebut. 

Menyinggung peristiwa ‘gaduh’ ini, Katib Syuriah PBNU KH. Sa’dun Affandi berpendapat, meskipun karpet bermotif sajadah adalah produk budaya, namun yang lebih penting untuk diperhatikan adalah dimensi etis dan tatakrama. Sajadah bagaimanapun telah menjadi instrumen ibadah dalam arti kebudayaan. 

"Secara fikih memang tidak ada masalah, tapi yang secara etis, ditinjau dari sisi moralitas, tentu saja hal itu tidak bisa dibenarkan. Kanwil Kemenag seharusnya lebih berhati-hati. Apalagi peristiwa “Sajadah” ini menyangkut sesuatu yang memang sangat sensitif bagi umat Islam." 

Biar tidak terulang lagi, Menteri Agama harus mengusut tuntas motif di balik peristiwa ini. Yang penting kita umat Islam jangan sampai terprovokasi. Bahasa sederhananya menurut Kiai Sa'dun, "Menari di atas alas sajadah menyalahi tatakrama budaya." 

CERITA SEMPAK GUS DUR
Alkisah, ketika kuliah di Kairo, Gus Dur suka memlonco (nggojlok: bahasa Kediri) pendatang baru dari tanah air. Partnernya dalam panitia perploncoan biasanya adalah Gus Mus (KH. A. Mustofa Bisri) dari Rembang. 

Suatu hari KH. Syukri Zarkasyi yang ketika itu pastinya belum Kiai Haji dan menurut Gus Dur "pekerjaannya di Kairo hanya main band tapi pulang-pulang jadi kiai"—bertamu ke tempat kos Gus Dur. Tentu saja disambut dengan penuh keramahtamahan, dipersilakan duduk, saling menanyakan keselamatan, di-godog-kan (rebus) air untuk membuatkan minuman teh dan seterusnya. 

Hanya saja karena namanya juga tempat kos: kamar, dapur dan ruang belajar ya jadi satu. Maka Gus Syukri Zarkasyi pun melihat segala yang dilakukan oleh tuan rumahnya. Gus Mus mempersiapkan cangkir dan lepek sambil bertanya kepada Gus Dur, "Di mana lapnya tadi?" 

Gus Dur berjalan ke sisi almari, mengambil "lap" yang ternyata adalah celana dalam alias sempak. Lalu diberikannya kepada Gus Mus yang diterima dengan wajah dingin, kemudian langsung dipakai untuk ngelap cangkir sambil mengobrol dengan Gus Syukri. Merah-padamlah wajah calon kiai Gontor ini, sekaligus pucat-pasi. Ketika teh sudah tersuguhkan, mau tak mau ia meminumnya, meskipun perasaan dan lidahnya bercampur-aduk. 

Sekian lama kemudian baru mereka bertiga tertawa cekakakan. "Cangkir harus dilap dengan kain istimewa yang paling bersih, diantara kain-kain yang ada. Dan kain itu betul-betul gress dari toko, belum pernah dipakai sebagai sempak. Karena itu belum bisa disebut sempak," kata Gus Dur. 

Cerita yang menggelitik ya hehehe... Melihat dari sudut pandang lain... Sajadah belum dikatakan sajadah bila belum dipakai untuk sholat, Celana Dalam belum dikatakan celana dalam bila belum dipakai... Tapi ya bisa keliru karena menyalahi etika kegunaan barang tsb dan bisa menimbulkan keramaian, begitu mungkin pesan yang hendak disampaikan lewat cerita ini hehehe. Sip banget... 

 
Kembali soal karpet sajadah, Itu karpet...bukan milik masjid dan bukan utk sholat.....
Itu karpet aula...dan karpet itu disediakan utk tari saman...karena tempatnya diluar gedung...dan dilanjutkan penari bali....bukan karena apa...tapi punya nya ya karpet itu...
Tapi demi fitnah dan demi meluapkan kebencian... yg disebarkan mereka hanya foto yg tari bali... kenapa tidak pas tari saman.... kalo tidak orang yg hatinya kotor tidak akan berbuat demikian.

loading...