ANNAS, Proyek Konyol Saudi Untuk Ciptakan Konflik di Indonesia ?

ANNAS, Proyek Konyol Saudi Untuk Ciptakan Konflik di Indonesia ?

ANNAS adalah sebuah organisasi yang dipelopori kalangan Wahhabi utk membendung Syi'ah di Indonesia. Dalam melakukan aksinya, kalangan Wahhabi berupaya mengajak pihak Aswaja yg sama-sama juga menolak Syi'ah utk ikut 'menyerang" Syi'ah.


Pihak Wahhabi berupaya utk menjadikan Syi'ah menjadi musuh bersama (Common Enemy) umat Islam seraya melabeli kalangan Syi'ah dgn Kafir atau Syi'ahBukanIslam.

Dgn kata lain, Syi'ah dianggap telah murtad maka menurut mereka boleh dibunuh (halal darah serta hartanya).

Label yg diberikan Wahhabi itu tidak sama dengan kalangan Aswaja, sebab Aswaja tetap menduga Syi'ah bagian asal kelompok umat Islam, Syi'ah lahir dari rahim umat Islam sejak masa awal kaum muslimin, dampak pergolakan politik yang berubah menjadi pergolakan teologi.

ANNAS : Aliansi Nasional Anti Syi'ah, dan  diketuai oleh Athian Ali Da'i. ANNAS membuat acara dibeberapa kawasan hanya untuk mewacanakan Syi'ahBukanIslam.

Bila ditinjau, aksi-aksi ANNAS atau aksi-aksi Wahhabi lainnya cenderung memunculkan gangguan terhadap stabilitas masyarakat. Hal ini bisa membahayakan bagi umat Islam di Indonesia, termasuk terhadap stabilitas Indonesia, apalagi Bila dimanfaatkan oleh agenda-agenda politik tersembunyi.

Permasalahan yg terjadi pada Timur Tengah tak lepas dari proganda-propaganda yg dilakukan mirip aksi aksi ANNAS atau aksi wahhabi lainnya. Akhirnya memunculkan pertarungan sektarian yg tidak ada ujungnya sampai waktu ini. Oleh karena itulah, tak sedikit kalangan yg menganggap adanya agenda tertentu yang berupaya utk menjadikan Indonesia mengalami konflik seperti di Timur Tengah.

Seorang aktifis muda dari kalangan Nahdlatul Ulama, Ahmad Sahal, bahkan pernah berkata koordinator Majelis Ulama Indonesia (MUI) pernah berkata kepadanya bahwa organisasi ANNAS adalah bagian dari proyek Arab Saudi utk membawa perang konyol-nya ke Indonesia.

"koordinator MUI pusat bilang ke saya , ANNAS Aliansi Nasional Anti Syiah adalah proyek Saudi utk bawa perang konyolnya dgn Iran ke RI. #SaveRI.", tulis Ahmad Sahal, aktifis muda NU sekaligus Pengurus Cabang  NU Amerika melalui akun twitternya (19/11/2015).

Beberapa kalangan menilai Arab Saudi adalah negara yang menjadi pelopor pertarungan di kawasan Timur Tengah karena ingin mendominasi kawasan tersebut. Bahkan Arab Saudi menjadi negara yg sangat dekat dgn Amerika. Sedangkan Iran adalah negara Syi'ah yang dianggap sebagai pesaing utama Arab Saudi.

Soal Syi'ah, Ahmad Sahal berkata tidak seluruh Syi'ah ekstrim meskipun didalamnya ada gerombolan  ekstrim yg hingga mengkafirkan shohabat Nabi Saw. Dikalangan Sunni juga demikian, ada kelompok takfiri (suka mengkafirkan pihak lain).


"Di Syiah terdapat kelompok ekstrim yang kafirkan sahabat, tapi tidak lantas seluruh Syiah ekstrim. Di Sunni juga terdapat Takfiri, tidak lantas semua Sunni Takfiri.", tulis Ahmad Sahal dlm akun twitternya (22/11/2015).


Akhmad Shahal, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama Amerika Serikat. “Ketua MUI Pusat bilang ke saya, ANNAS adalah proyek Saudi untuk bawa perang konyolnya dengan Iran ke Indonesia."

“Dulu musuh kebangsaan dan kebhinnekaan RI adalah kaum penjajah. Kini musuhnya adalah kaum intoleran kek ANNAS (Aliansi Nasional Anti Syiah),”Menurut Akhmad Sahal dalam kicauanya.

Sahal juga me-retweet gambar yang menampilkan tokoh-tokoh seperti Cholil Ridwan, Farid Okbah, Abu Jibril, Athian Ali Dai, yang disebut-sebut sebagai tokoh provokator Wahabi. Masyarakat diminta meneliti apakah ada acara yang bertajuk anti-Syiah, Bumi Syam (peduli Suriah-red) dan sejenisnya di lingkungan masing-masing — karena tidak diragukan lagi, acara-acara tersebut diadakan oleh Wahabi yang memiliki agenda di tengah ummat Islam.

Mengalirnya dana Arab Saudi ke Indonesia, sebelumnya pernah diungkapkan oleh KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani. Berikut wawancaranya:

Menyikapi fenomena meningkatnya gerakan takfiri (kelompok pengkafir; gemar mengkafirkan kelompok lain) akhir-akhir ini, ABI Press mewawancarai seorang tokoh NU, KH. Alawi Nurul Alam Al Bantani. Dia adalah salah seorang pengurus Tim Aswaja Center Lembaga Takmir Masjid Pimpinan Besar Nahdlatul Ulama (LTM) PBNU. Dari informasi yang kami dapat, tokoh muda NU yang satu ini memang mendapat mandat khusus dari PBNU untuk mengurusi hal-hal terkait permasalahan aktual Islam di Indonesia. Sebab itu ABI Press merasa tepat meminta pandangannya soal maraknya gerakan radikal dan aksi-aksi intoleransi di negeri kita.

“PBNU merupakan ormas Islam terbesar di Indonesia, bahkan dunia,” tuturnya mengawali perbincangan dengan kami.

Kami tanyakan, apakah terkait meningkatnya gerakan kelompok radikal ini, memang ada peran dari luar?

“Ya, jelas,” tegas KH. Alawi lalu menambahkan, bahwa ajaran suka memecah-belah ini sebenarnya berasal dari Yahudi. “Karena Islam tidak mengajarkan itu. Ajaran Yahudi itulah yang kemudian diaplikasikan oleh Arab Saudi.”

Apa buktinya kalau Saudi justru lebih mementingkan agenda Yahudi daripada menjalankan apa yang diajarkan Islam?

Makanya, coba lihat apakah Arab Saudi secara serius terus membantu perjuangan kaum muslimin di Palestina? Ya, nggak pernah! Tapi apakah Saudi memberikan bantuan kepada Yahudi atau Israel? Banyak bener bantuan yang telah diberikan! tegasnya.

KH. Alawi juga menjelaskan bahwa para alumni dari luar yang pernah kuliah di universitas-universitas yang berada di Mekah dan Madinah juga mendapat banyak sumbangan saat mereka kembali ke negara masing-masing. Hal itu dilakukan demi melancarkan upaya penyebaran paham Wahabi yang dimotori negara minyak itu.

Tak hanya itu, lebih memprihatinkan lagi, menurut KH. Alawi, dana Saudi juga masuk ke Indonesia dalam jumlah besar untuk menghadapi pemilu dan mewahabikan Indonesia.

Tiga bulan kemarin, saat rapat di PBNU, saya ketahui bahwa jumlah untuk menghadapi pemilu dan mewahabikan Indonesia itu mencapai angka 500 Miliar. Tapi berselang dua minggu kemudian, ternyata sudah berubah menjadi 1,2 atau 1,3 Triliun untuk satu Provinsi, ungkapnya.

Apakah benar-benar ada data valid tentang itu?

“Semua datanya ada di PBNU dan PWNU, tapi saya nggak bisa kasih. Data penting itu mahal harganya,” seloroh KH. Alawi lalu menjelaskan bahwa dana-dana Saudi yang masuk ke Indonesia itu digunakan untuk membangun masjid-masjid, travel umrah, rumah zakat dan sebagainya.

“Bahkan di PBNU, kita juga punya data tentang salah seorang pejabat di Jawa Barat yang menggunakan 5 Miliar dana Zakat untuk kampanye,” tambahnya.

Terkait data yang disampaikannya, bagaimana seandainya ada pihak yang tidak terima dan ingin menuntut? KH. Alawi menanggapinya dengan enteng.

“Kalau mau jatuh tahun ini ya silakan saja menuntut. Kita tinggal undang wartawan, diumumkan dan baca datanya,” pungkas KH. Alawi mantap.

Masifnya kaum Wahabi menyesatkan menyerukan kebencian dan penyesatan terhadap Syiah, ditenggarai hanyalah kedok belaka. Target Wahabi sesungguhnya adalah NU. Indonesia tanpa NU akan mudah sekali mereka kuasai, maka dari itu warga NU sengaja dibuat agar tidak percaya bahkan memusuhi NU itu sendiri.

KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), berkata,”Kunci menghancurkan NKRI adalah dengan menghancurkan NU. Dan cara menghancurkan NU adalah dengan melakukan adu domba Sunni-Syiah.”

Dan bukankah ulama-ulama moderat yang menyerukan toleransi dan perdamaian dituduh Syiah, sesat, liberal dst? Termasuk Gus Dur. Beliau telah lama berpulang tetapi pemikirannya masih hidup dan menginspirasi. Maka, media Wahabi pendukung ISIS, Voa-Islam.com, akhirnya merilis artikel yang menjelek-jelekkan Gus Dur hingga memancing kemarahan warga NU.

Masyarakat dihimbau untuk tidak mengikuti organisasi organisasi yang berideoligi takfiri wahabi karena bisa menimbulkan konflik parah. 

Para teroris yang meneror masyarakat di jakarta , bom bali, kelompok santoso, ISIS, Al Qaeda dan ekstrimis lainnya menjadikan ideologi takfiri wahabi sebagai ideologinya. Maka lihatlah betapa mereka begitu beringas mudah membunuh orang, padahal sebelum terjangkit ideologi takfiri, mereka adalah orang yang pendiam tak banyak berbuat masalah.


loading...