Kisah Sang Katak : Penyebab Katak Tidak Boleh dibunuh Dan Hukum Mengkonsumsinya

Habibana Mundzir bin Fuad Al-Musawa.
Diriwayatkan di dalam riwayat yang tsiqah bahwa Allah swt menyaksikan seekor katak yg mengisi air di mulutnya dan melompat lompat mendekat kepada Nabi Ibrahim dan menyemprotkan air di mulutnya ke gunung api yang membakar Nabiyullah Ibrahim.



Apa artinya perbuatan seekor katak..??
Ia kembali lagi mengambil air, menaruh air di mulutnya, melompat-lompat lagi mendekati api dan menyemburkannya. Sekalipun 1000 katak berbuat seperti ini tidak akan bisa memadamkannya. Tapi perbuatan katak yang sia-sia itu di mata Allah tidaklah sia sia. Allah haramkan semua katak untuk di bunuh hingga akhir zaman, gara-gara satu perbuatan katak. 

Diriwayatkan didalam Sunan Al Kubra oleh Al-Imam Baihaqi dan riwayat Imam Nasa'i dan riwayat Imam Abi Daud dengan riwayat hasan Dan riwayat yang shahih bahwa Rasul saw melarang membunuh katak.  

Datang seseorang berkata :: "Ya Rasulullah... Kami ingin menjadikan obat dari hewan katak boleh tidak..?"..
Lalu dilarang oleh Nabi saw. "Jangan membunuh katak".
Subhanallah... Kenapa..??? 

Karena cintanya katak kepada Khalilullah (Nabiyullah Ibrahim as). Padahal perbuatannya sia-sia, tidak bisa memadamkan api itu dan Allah sudah menolongnya tanpa perlu katak ini meniupkan air.. Tapi usahanya, walaupun ia tahu perbuatannya itu tidak akan merubah sesuatu, tapi niatnya didalam hati seekor katak yang demikian kecil, namun Allah Rabbul Alamin melihat dan memerintahkan semua Nabi untuk melarang umatnya membunuh katak. 

Hadirin.. ku seru engkau untuk membela Sayyidina Muhammad Saw. Membantu menyebarkan dan membenahi umat agar dalam kedamaian. 

Kalau seekor katak mendapatkan penghargaan diharamkan untuk dibunuh seluruh bangsanya hingga akhir zaman hanya karena mengumpulkan air di mulutnya untuk memadamkan api Nabi lbrahim. Lebih- lebih lagi terhadap jiwa yang ingin membantu dan menegakkan tuntunan Sayyidina Muhammad saw..  

Renungi kelembutan dan penghargaan Allah ini. Renungilah didalam jiwa masing-masing. Renungi segalanya betapa Allah menghargai orang-orang yang mau perduli atas hamba-hamba yang dicintai Allah. 

Hukum Memakan Dan Membudidayakan Katak / Kodok - Fatwa MUI 

MEMAKAN DAN MEMBUDIDAYAKAN KODOK 

Rapat Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia, yang diperluas dengan beberapa utusan Majelis Ulama Daerah, beberapa Dekan Fakultas Syari'ahIAIN dan tenaga-tenaga ahli dari Institut Pertanian Bogor, yang diselenggarakan pada hari senin, 18 Shafar 1405 H. (12 Nopember 1984 M.) di Masjid Istiqlal Jakarta, setelah :
Menimbang :  

Bahwa akhir-akhir ini telah tumbuh dan berkembang usaha pembudidayakan kodok oleh sebagian para petani ikan.
Mendengar :
a. Pengarahan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia dan Ketua Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia.
b.  Keterangan para ahli perikanan tentang kehidupan kodok dan peternakannya.
c.  Makalah-makalah dari Majelis Ulama Daerah Sumatera Barat, NTB, IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN Walisongo Semarang.
d.  Pembahasan para peserta dan pendapat-pendapat yang berkembang dalam sidang tersebut. 

Memperhatikan dan memahami :

a. Ayat-ayat al-Qur’an dan as-Sunnah, serta kaidah-kaidah fiqhiyah antara lain : 

1.  Surat al-An’am ayat 145
“Katakanlah : Tiada aku peroleh dalam wahyu yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya, kecuali kalau makanan itu bangkai, atau darah yangmengalir atau daging babi karena sesungguhnya semua itu adalah kotor ataubinatang yang disembelih atas nama selain Allah.”  

2.  Surat al-Mai’dah ayat 96
“Dahalalkan bagimu binatang buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang orang yang dalam perjalanan.  

3.  Surat Al-A’raf, ayat 157
“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi  mereka segala yang buruk”.  

b.  Hadits-hadits Nabi Muhammad SAW :
“Dari Abdurrahman bin Utsman Al Quraisy bahwanya seorang tabib (dokter) bertanya kepada Rasulullah SAW, tentang kodok yang dipergunakan dalam campuran obat, maka Rasulullah SAW melarang membunuhnya.” (Ditakharijkan oleh Ahmad dan dishahihkan Hakim, ditakhrijkannya pula Abu Daud dan Nasa’I).  

c.  Memanfaatkan kulit bangkai selain anjing dan babi, melalui proses penyamakan, dibolehkan menurut ajaran agama. 

d.  Semua binatang yang hidup menurut jumhur ulama hukumnya tidak najis kecuali anjing dan babi.
e.  Khusus mengenai memakan daging kodok, jumhur ulama berpendapat tidak halal, sedangkan sebagian ulama yang seperti Imam Malik menghalalkan. 

f.  Menurut keterangan tenaga ahli dari Institut Pertanian Bogor Dr. H. Mahammad Eidman M.Sc. bahwa dari lebih kurang 150 jenis kodok yang berada di Indonesia baru 10 jenis yang diyakini tidak mengandung racun, yaitu : 

1.    Rana Macrodon
2.    Rana Ingeri
3.    Rana Magna
4.    Rana Modesta
5.    Rana Canerivon
6.    Rana Hinascaris
7.    Rana Glandilos
8.    Hihrun Arfiki
9.    Hyhrun Pagun
10.  Rana Catesbiana 

Maka dengan bertawakal kepada Allah SWT, sidang : 
MEMUTUSKAN
1.  Membenarkan adanya pendapat Mazhab Syafii/jumhur Ulama tentang tidak halalnya memakan daging kodok, dan membenarkan adanya pendapat Imam Maliki tentang halalnya daging kodok tersebut.  

2.  Membudidayakan kodok hanya untuk diambali manfaatnya, tidak untuk dimakan. Tidak bertentang dengan ajaran Islam.
Jakarta, 18 Shafar 1405 H
12 Nopember 1984 M 

KOMISI FATWA
MAJELIS ULAMA INDONESIA
Ketua
PROF.KH.IBRAHIM
Sekretaris
H.MAS’UD
** Kesimpulan dari fatwa MUI adalah memperbolehkan budidaya kodok dan menetapkan keharaman mengkonsumsi kodok mengikuti pendapat mayoritas ulama’. 

loading...